Kilau Pelangi

Karena gak ada ide postingan dan sedang males-malesan ngerjain ‘proyek nulis’ trus baca-baca tulisan di blog lama…ternyata ada cerita bagus yang bisa direpost. Sambil nungguin jam pulang yayyy……..

———————————————-***———————————————

Putaran itu semakin kencang, menikuk tajam dan menurun keras, semua menjerit termasuk diriku. Kepalaku tiba-tiba pusing dan hendak muntah. Mega mencengkram keras lenganku, kepalanya serasa ingin masuk ke dalam dadaku, menyembunyikan rasa takutnya yang besar pada ketinggian. Hari ini aku mengajaknya naik jet coaster, kemarin aku ajak dia ikut flying fox, entah besok apa lagi, aku ingin membawa dia melihat dunia lain yang bisa dia lihat dari atas ketinggian.

“Sumpah….jangan bawa aku ke tempat yang berbahaya lagi…..” umpat Mega sembari memegangi perutnya yang kejang karena tekanan tadi. Aku tertawa geli melihat wajahnya yang merah padam. “Hai…coba kamu nikmati saja tadi, aku bisa melihat pepohonan saat kita ada di atas tadi, dan tiba-tiba pepohonan hilang dan aku melihat seorang gadis cantik berjalan dari arah sana, sayangnya dia keburu hilang setelah kita turun….” jawabku dengan nada bersemangat. “Gila….masih sempet-sempetnya ya mata kamu jelalatan….” pekik Mega nampak marah dan dengan langkah terhuyung-huyung, dia meninggalkanku.

“Hai…jangan marah dong !” sahutku sembari mengejar langkahnya. “Aku cuman bercanda….jangan diambil hati….aku yakin kamu jauh lebih cantik dari gadis tadi….” rayuku pada Mega, Mega memicingkan matanya tanda tidak yakin akan ucapanku. “Alah….gombal!! Aku mau beli minuman, kalau tidak aku akan muntah nanti…aku rasa aku masuk angin sekarang dan perlu ke dokter…”

Itulah Mega, kerjaannya setiap hari mengeluh dan mengeluh. Sedikit-dikit merasa capek dan sakit, terkadang gampang sekali tersinggung hanya karena perkataanku yang tidak sesuai keinginannya. Aku berjalan di sampingnya seakan harus menuruti semua komandonya, jangan sekali-kali melawan, kalau aku tidak mau kehilangannya, dia temanku dan mungkin nanti suatu hari nanti dia bisa membuka hatinya untukku. Baru seminggu ku kenal dia sewaktu pertemuan karang taruna, maklum kami bertetangga. Baru kenal pertama, aku sudah tertarik untuk mendekatinya, mengenalnya dari dekat meski sikapnya sangat culas dan tidak bersahabat.

Dan sore itu sehabis seharian menghabiskan waktunya denganku, aku melihatnya ada sedang duduk di teras rumahnya. Duduk sendiri dengan novel-novel cinta yang saban hari kulihat tidak pernah lepas dari genggamannya, juga boneka teddy bear itu dari tadi menatap Mega dengan tatapan kosong seolah ingin bertanya. “Apa yang kamu sukai dari novel itu, sehingga kamu rela membuang waktumu untuk diam bersamanya ?” Aku terus memperhatikannya, sama sekali tidak ada senyuman yang terbit di wajahnya, aku penasaran dengan isi novel yang dia baca. Apa semuanya bicara tentang kesedihan sehingga aku harus melihat kerutan di dahinya semakin kentara ?

“Hai….” sapaku tidak sabar, menyapa terasnya dan masuk ke dalam rumahnya tanpa ijin dari siapapun. “Hei orang gila, apa yang sedang kamu lakukan ? Sapa suruh kamu masuk ke rumahku ? Apa yang mau kamu lakukan, lihatlah kakimu meninggalkan bekas kotor di lantai….” gerutu Mega mengikuti langkahku. Aku berjalan cuek dan tidak perdulikannya. Seorang perempuan tua bersama seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahunan sedang duduk nonton TV. “Hai….permisi….anda pasti neneknya Mega kan ? Saya Marvel, tetangga sebelah rumah….hanya ingin berkenalan saja!” sapaku kepada perempuan tua tadi, dan dia tersenyum, mempersilahkan aku duduk bersama mereka. “Nenek, jangan hiraukan dia…dia ini orang gila…tadi dia mengajakku ke taman hiburan dan dia menyuruhku naik jet coaster, tahu tidak aku pulang dan aku masuk angin gara-gara itu….dan aku belum sempat ke dokter sekarang…” tiba-tiba saja Mega masuk dan mengomel terus tanpa berhenti. “Hai, kak biarkan saja dia disini. Dia kan tetangga baru kita….hai, kak Marvel kalau naik jet coaster ajak saja diriku…aku pasti senang dan tidak mengeluh seperti kakakku yang cerewet itu….” seru anak perempuan kecil tadi dengan nada ramah padaku. “Hai diam kamu….Mela….” potong Mega sembari melotot padanya. “Hai…kamu ini kenapa kasar sekali pada adikmu sendiri. Hai, Mela, lain kali aku akan ajak kamu….” gerutuku pada Mega sembari membelai rambut Mela. “Ah…terserah saja. Dan Mela itu bukan adikku….dasar orang gila!” jawab Mega sembari meninggalkan kami. Mela menatapku nanar seakan ingin bercerita sesuatu, tapi dia kembali diam, aku berusaha bertanya tapi dia tersenyum saja.

Aku suka sekali memasak dan hari ini aku sibuk memasak spagetti di dapur, tapi ini bukan dapurku melainkan dapur milik neneknya Mega. Sedari tadi pagi aku menghabiskan waktuku di rumah Mega, bergaul dengan Nenek dan Mela. Mereka sangat ramah tidak seperti Mega yang galaknya mirip herder itu. Kami berdikusi panjang lebar tentang berbagai hal, Nenek sangat ramah dan dia seorang pengikut berita yang baik, semua berita di TV baik tentang selebritis hingga politik, dia ikuti….seru sekali bicara dengannya. Usianya yang sudah sekitar 60tahunan tidak menghalangi semangatnya untuk berdebat tentang isu permasalahan yang sedang marak dibicarakan di masyarakat….dia sangat cerdas dan dia juga terlihat cantik dan anggun di usia senjanya, aku mengaguminya. Dan Mela, meski dia masih sangat muda….atau kecil di usia 7 tahunnya, dia sangat cerdas, kepribadiannya sangat ceria dan bertolak belakang dengan Mega yang tukang ngomel dan penggerutu itu.

“Hai…orang gila sedang apa kamu bersama Nenek dan Mela ? Dapurku jadi kotor….” teriak Mega menganggu ketenangan kami bertiga. “Hai…Mega…sedikit ramah dong dengan Marvel. Lihat dia jago masak, kamu saja kalah dengannya, spagetti buatannya sangat enak….” ujar Nenek yang mugkin membuat telinganya panas. Dia merampas satu piring spagetti di tanganku. “Hah….aku bisa buat yang lebih enak dari ini tahu ???” ujarnya marah sembari membanting piring itu di meja dapur dan beranjak pergi.

“Apa kerjaannya di rumah cuma seperti itu, Nek ? Mengomentari pekerjaan orang lantas membanting dan pergi….bssst…bssst !” tanyaku dengan mengibaskan tanganku sembari tertawa kecil. “Entahlah…memang dia seperti itu selalu saja mengomel dari pagi hingga petang. Seolah seluruh dunia ini berantakan dan tidak memiliki tempat di hatinya…” jawab Nenek sembari berkacak pinggang. “Ayo…kita makan…spagettinya tidak enak kalau dibiarkan dingin. Biarkan saja nenek sihir itu kelaparan…” ujar Mela mengajakku menghabiskan spagetti buatan kami.

“Apa kamu sibuk ?” sapaku menghampiri Mega di kamar sembari membawa sepiring spagetti. “Hai…apa kamu tidak tahu sopan santun ? Laki-laki dilarang masuk kesini…” seru Mega mencoba mengusirku. Aku tetap bertahan dan tetap memaksa masuk. “Hai…aku hanya ingin ngobrol denganmu…tidak mau berbuat macam-macam. Kalau sampai aku macam-macam, kamu bisa panggil hansip kesini….” ujarku sembari mengambil kursi di sebelah dia yang sedang asyik utak atik internet. Ku raih sebuah novel di sebelah mejanya, belum berhasil, Mega sudah memukul punggung tanganku. “Aow…” “Sudah kubilang jangan macam-macam…”bentak Mega kasar dengan wajah yang kaku dan angkuh. “Oke…aku juga tidak terlalu tertarik dengan novel percintaan seperti itu, aku hanya ingin membaca judulnya saja…”Jika Cinta Jangan Ma….rah…” Aow…” teriakku saat mengeja judul novel tersebut, sekali lagi Mega memukul tanganku. “Hai…kamu kasar sekali jadi perempuan ? Seperti judulnya, jika kamu cinta aku, jangan suka  marah-marah dong…” godaku yang membuat Mega semakin marah. “Memangnya siapa yang cinta sama kamu, dasar orang gila !!!” “Oke…oke…dilihat-lihat muka kamu tuh kelihatan lucu saat marah…” Aku terus menggodanya sembari berusaha mencubit pipinya, dia memukul sekali lagi lenganku. “Dasar gila!! Aku heran bagaimana orang sepertimu diijinkan tinggal disini…aku akan mengadu ke Pak RT sekarang” Mega berdiri dari kursinya dan meninggalkanku, aku mengejarnya. “Hei…mau kemana ?” “Ke rumah Pak RT !” teriak Mega, Nenek dan Mela yang duduk di depan memperhatikan kami dengan terheran-heran.

“Kamu mau kemana sayang ?” teriak Nenek. “Ke rumah Pak Danu…RT kita…” jawab Mega dengan marah. “Pak Danu sudah bukan ketua RT kita lagi….2 hari lalu ada pemilihan ketua RT baru, nenek sihir tidak tahu kan? Baca novel melulu sih….” celetuk Mela dengan lirikan nakal. “Lantas siapa ketua RT kita yang baru ?” teriak Mega masih dengan emosi meluap-luap. Aku berdiri mematung dan bersikap tenang sampai akhirnya nenek menjelaskan. “Orang yang sedang berdiri di sebelahmu….dialah ketua RT yang baru….” “Hah ? Dia ???” jerit Mega sembari menoleh kepadaku dengan wajah tidak percaya. Aku mengedipkan mata nakal ke arahnya sembari bergaya seakan aku orang yang layak untuk dia beri hormat. “Bagaimana orang sinting seperti dia menjadi ketua RT disini….memang dunia sudah gila …..gila….” maki Mega sembari memegangi kepalanya. “Hai….hati-hati kalau jalan…siapa tahu kepalamu jatuh dan kamu tidak sadar….” teriakku yang disambut tawa lepas Nenek dan Mela. Aku tersenyum pada mereka. “Si Nenek sihir sebentar lagi akan menyerah…tenang saja…kita yang menang !” gumamku pada mereka.

Hari ini aku mengajak Mela jalan-jalan ke taman hiburan. Dia terlihat riang saat masuk ke arena permainan, langkahnya nampak ceria di antara ribuan pengunjung lainnya, dia terlihat bersinar. “Hai…tuan putri…jangan terlalu cepat melangkah, nanti kamu hilang. Nanti Nenek sihir di rumah bisa marah kalau tahu kamu hilang…” seruku berusaha menggandeng tangannya, karena seakan dia lepas kendali. “Ah…kakak….biarkan saja…Nenek sihir itu tidak akan marah jika aku hilang disini, justru dia akan mengangkat tangannya dan berterima kasih padamu…” seru Mela sembari melangkah cepat ke arah permainan, tembakan jitu yang berhadiah boneka. “Kamu mau aku bantu ?” tanyaku. “Kamu menginginkan bonekanya ?” Dia mengangguk perlahan, mata bulatnya terus mengawasi boneka yang dipajang. Aku mengambil pistol mainan dan berusaha menembak dengan jitu sasaran yang berpindah-pindah terus. Dor !! Ye!!! teriak Mela berbarengan dengan lepasnya peluru yang mengenai kepala sasaran. “Ye…menang !!”teriak Mela, petugas memberikan boneka kepadanya. “Makasih ya Kak…” teriak Mela bahagia.

“Kamu mau ceritakan sesuatu tentang nenek sihir di rumahmu itu ?” tanyaku pada Mela sembari makan es krim. Dia memandangku dengan senyum lucu khas anak kecil. “Nenek sihir membenciku, dia tidak biarkan aku menyebut dia kakak….makanya kupanggil saja dia Nenek sihir ! Dia lebih senang dengan panggilan itu….” “Kenapa harus membencimu. Adik manis sepertimu cuman 1 banding seribu….” tanyaku penasaran, ku sapu dengan tisu, es krim yang mengkotori pipinya. “Ibunya bukan ibuku….dia selalu bilang kalau ayah meninggal karena aku dan ibuku…” wajah Mela nampak sedih dan muram. “Hei…jangan sedih seperti itu…” hiburku menenangkan Mela. Mela memelukku erat-erat. “Aku ingin punya seorang kakak….” keluhnya perlahan. “Tenang saja….orang gila seperti aku bisa jadi kakak yang baik koq…” jawabku sembari membelai rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang.

Kami kembali ke rumah, tampak nenek sihir berdiri dengan berkacak pinggang. “Hei…Mela…apa yang seharian kamu perbuat dengan orang gila seperti dia ? Kamu belum mengerjakan satu pun dari PR mu dan dua hari lagi kamu ujian…kenapa kamu malah bersenang-senang dan lupa akan tanggung jawab kamu ??” bentak Mega sembari menarik lengan Mela dengan kasar dan memaksanya duduk di kursi. “Hai…Mela masih capek. Kenapa kamu kasar sekali pada adikmu?”ujarku pada Mega, Mega balik memelototiku. “Apa urusanmu disini, Tuan RT yang terhormat, apa pekerjaanmu sebagai ketua RT disini hanya untuk mencampuri urusanku dengan keluargaku ? Aku tidak sedang meminta pendapatmu…dan aku juga tidak ijinkan kamu membawa Mela pergi selama dia masih punya tanggung jawab disini! Dan kukatakan sekali lagi, dia bukan adikku….” Mela mendengar kata-kata itu dan segera berlari ke dalam, menangis. ‘Lihat ! Apa yang kamu perbuat barusan ? Kamu melukai hatinya….bagaimanapun juga dia adikmu, meski mungkin kalian bukan dari Ibu yang sama….” bentakku karena emosi. “Dari mana kamu tahu semuanya ? Pasti dia mengadu padamu kan ?” Mega semakin keras menatapku, wajahnya nampak sedang marah besar. “Gara-gara dia Ayahku meninggal, gara-gara dia dan Ibunya yang tidak tahu malu itu….aku membenci mereka…” Mega berlari ke arah taman dan aku mengejarnya.

“Apa kamu pikir, Mela ingin dilahirkan dengan kebencian dari orang sekitarnya ? Apa dia punya pilihan saat dia dilahirkan ? Kamu tidak bisa membencinya dengan alasan yang bukan dia yang menciptakannya….” ucapku berusaha memberinya pengertian, meski mungkin sulit untuk mengubahnya. Mega berbalik dan menatapku perlahan, dia diam tidak membantah. “Percuma setiap hari kamu membaca novel percintaan, kalau hatimu sendiri tidak memilikinya….Padahal kamu dianugerahi dengan banyak cinta, dari Mela, dari Nenekmu yang bisa kamu syukuri….tapi yang kamu lihat hanya ketidak adilan dunia ini dan tidak melihat bahwa dibalik semuanya masih ada pelangi…seandainya kamu bisa melihatnya. Adikmu Mela memiliki mata yang indah bagai pelangi…” lanjutku sembari melangkah meninggalkannya sendirian. Ku dengar isak tangisnya terputus-putus di belakangku. Kulihat juga Nenek ada di ambang pintu dapur, menitikkan air matanya sembari tersenyum padaku. Aku menyapanya dengan hormat, dan berbalik ke rumahku sendiri.

2 hari aku tidak pergi ke rumah itu. Kujenguk teras rumahnya dan tidak kulihat Mega disitu. Novel-novel dan boneka teddy bear terlihat sendiri di bangku teras. Aku mendongak ke atas, mencari dia di jendela kamarnya, dia tidak terlihat. Kubelokkan pandangan dan memandang ke arah dek atap rumah yang terbuka, dimana biasanya pembantu rumahnya menjemur baju. Ku lihat Mega disitu, berdiri di pinggiran beton yang sangat tinggi dari permukaan tanah. Aku segera berlari, melihat bahaya yang sedang terjadi.

Ku menerobos ke dalam rumah, tidak ada siapapun. Nenek atau Mela, tidak ada. Pembantu rumah juga tidak terlihat, aku segera naik ke loteng dan memanjat tangga yang curam untuk sampai ke arah dek atap rumah. Aku melihat Mega sedang menangis sembari berdiri mematung di atas beton yang jika dia tidak jaga keseimbangan, angin bisa membuatnya terjatuh. Pemikiran seperti itu membuatku ngeri sendiri. “Apa yang kamu lakukan ?” sapaku perlahan agar tidak mengagetkannya. “Kamu sendiri sedang apa disitu, mengawasiku ?” jawab Mega tanpa menoleh padaku. “Turunlah…angin sedang bertiup kencang disini dan jika kamu tidak kuat, kamu bisa jatuh…” pintaku dengan sabar padanya. Angin bertiup kencang, hawa disini sedikit kasar, kemarau panjang yang membuatmu rindu akan hujan….melelahkan. Mega nampak menghela nafas panjang…

“Disini dulu Ayahku jatuh, bunuh diri karena tidak kuat menghadapi hidupnya yang buruk. Dia memiliki dua istri yang tidak bisa rukun. Ibuku dan Ibu Mela. Karena itu aku benci dengan ketinggian, karena disini yang terbayang hanya kematian….”keluh Mega perlahan. Aku menggelengkan kepala. “Turunlah…aku ingin bicara sebentar….” ajakku yang dijawab gelengan kepala Mega. “Dasar bandel !!” keluhku, terpaksa aku ikut memanjat beton dan mengatur keseimbanganku untuk berdiri tepat disampingnya. “Hei…bodoh. Kenapa kamu selalu ingin ikut campur urusanku ? Pergilah….aku ingin sendiri….” teriak Mega. Sssttt!! aku mengarahkan telunjukku ke bibirku. “Lihat ke arah sana….kamu lihat apa ?” sahutku kemudian mengarahkan telunjukku ke arah kanan, nampak dari kejauhan tepi pantai yang indah dengan butiran pasir yang mengkilat ditimpa cahaya matahari. Kening Mega berkerut. ‘”Aku tidak tahu jika rumah kita dekat dengan pantai…” “Karena kamu hanya ada di rumah dengan novel-novel dan boneka teddy bearmu….melihat kesuraman rumahmu dan tidak berusaha mencari dan melihat alangkah indahnya hidup ini yang luas dan layak disyukuri…”ucapku sembari memandang matanya yang nampak biru terkena sorotan lampu. Dia memandangku terus memandangku dan…. mulai tersenyum….ya dia tersenyum….kulihat pelangi di bibirnya yang indah.

“Marvel….” bisiknya. Pertama kali dia memanggil namaku, bukan dengan sebutan orang gila lagi. Aku berhati-hati berusaha melingkarkan lenganku di pundaknya. Senyumnya makin lebar, sekali lagi dia mencengkeram dadaku dan kepalanya seakan ingin masuk ke dalamnya. Aku tertawa. Aku sedikit menghentaknya, dia kaget dan hampir hilang keseimbangan, cepat-cepat kutangkap badannya. Dia tertawa lepas dan memelukku erat-erat.

“Kamu sangat baik, Marvel. Pantas jika Nenek dan Mela adikku sangat menyukaimu….” sahutnya perlahan, akhirnya dia pun menyebut Mela sebagai adiknya.

“Dasar Nenek sihir….” gumamku dalam hati.

Kulihat matahari mulai terbenam di pantai, dan Mega sepertinya tertidur di pelukanku. Nenek sihir telah berubah menjadi putri tidur ? Hahahaha….tawa lepasku membahana.

Helooo…

Sejujurnya aku kangen ngeblog tapi sebohongnya aku banyak banget kendala buat nulis, halah * dilempar kamus, ngomong belepotan* :mrgreen:

Abisnya kalo ngeblog kan mood, otak ama tangan kudu sinkron. Nah seringnya mereka bertiga gak klop hihihii…udah ada mood, otak ada ide, tangan males nulis atau sibuk ama sesuatu.  Atau giliran mood dan tangan ada, otaknya bodong kayak sekarang alias gak ada ide nulis apa 😆

Ya udah deh, mau menyapa temen-temen aja semua, haloooo…jumpa kembali di acara krucil…opo sih ?

Tadi sambil sibuk-sibuk kerja, aku dan temen-temen lagi ngegosipin bos hihihi, kebiasaan buruk yang gak patut dicontoh. Ngegosipin soal bos yang mau ulang tahun besok. Trus pembicaraan berlanjut ke soal kebiasaan makan bos yang gimana ya? Ya yang menurut kita kurang beretika gitu, jadi kalo seumpama makan semeja sama dia, kita bakalan ilfeel dan gak jadi makan 😆

Trus salah satu temen bilang “Loh bukannya dia kaya ya mbak? Kan mustinya etikanya lebih pinter ketimbang kita…” dan aku bilang “Kaya dan miskin cuman tempelan aja dan kembali ke manusianya dong… Kalo emang dasarnya dia nggragas ya nggragas….” maaf bahasanya barbar hihihihi…emang begini aku yang sebenernya.

Trus keingetan ama ulang tahunku 2 tahun lalu yang kita rayain di sebuah rumah makan. Waktu kita datang ternyata ada diskon umur pas hari itu. Jadi maksudnya kita sebelum pesen makan, kita nunjukin ktp dan kita nanti dapat potongan harga sebesar jumlah umur kita gitu. Dan situasinya ternyata rameeee bangetttt…bueneran ruame kayak pasar. Kita jadi nyesel datang pas hari itu, karena biarpun dapat diskon banyak tapi musti desek-desekan plus antri panjang hanya buat makan trus begitu makan kita buru-buru pulang karena udah ada yang nungguin kita, siap-siap ngerebut meja. Mana asyik, acara ulang tahun seperti itu, ya kan?

Nah, yang bikin kita melongo dan gak habis percaya. Yang ngantri kebanyakan tuh orang berada loh, yang turun dari mobil-mobil mewah, macam Harrier, Alphard. Masya ampyun, dan yang lebih bikin kita nganga tuh, mereka bawa buyut-buyut mereka yang udah jompo pake kursi roda buat desek-desekan, antri panjang, berebut meja sama ratusan orang lainnya. Ya ampun….ya bisa dibayangin kalo oma opa umurnya 80 tahun kan lumayan diskonnya 😆

Kita jadi mikir, bukannya bagi mereka makan macam beginian bukan barang mewah buat mereka. Duit mereka pasti banyak, bisa makan di hotel berbintang tujuh sekalian, kenapa trus mereka rela desek-desekan cuman buat diskonan di rumah makan sederhana kayak gini. Pake acara bawa orang lansia pake kursi roda pula, apa mereka gak takut sama resiko kalau-kalau si opa oma itu bisa napas abis karena desek-desekan.  Apa gak ngenes mereka ntar?

Ya begitulah, memang kaya dan miskin sekedar tempelan. Balik lagi ke manusianya sendiri. Ini cuman pendapatku sih, kalau kita gak bisa menilai manusia dari kaya dan miskinnya aja. Si kaya belum tentu lebih beretika ketimbang si miskin dan si miskin belum tentu kelakuannya kampungan.

20 Months Amanda…..

20 bulannnnnn yayyyyy…makin gede, makin cakep….boleh dong memuji anak sendiriiii….

Nggemesin…..centil, bandellll dan ngangeninnnn…pokoknya makin cinta ama cewek satu ini.

Makin cerewet walau pake bahasa planet, suka monyongin bibir bikin orang gemessss……suka joget gak jelassss hihihihi….suka berantakin baju bikin omanya buat sekian kalinya mindah2in rak baju mulu. Suka isenggggg….salaman sama masnya trus balik, cengar -cengir ehhhh… tiba2 nabok trus kaburrrr……

Makannyaaaaaa susyahhhhhhhh….giliran es sama kerupuk, juara makannnya…..gimana dapat gisinya nak?..

Tapi yang jelas, mama sayangggggg sama kamu, muacchhhh…..

image

image

image

Posted from WordPress for Android

Berenang Yok….

Minggu lalu, kami berdua bawa anak-anak pergi berenang. Tempat berenang yang kami pilih adalah kolam renang Hayam Wuruk. Pilih kolam renang ini selain karena lokasinya yang deket sama rumah, kolam renangnya juga tidak terlalu besar dan ramai sehingga tidak menyulitkan kami buat mengawasi anak-anak berenang. Apalagi sekarang untuk pertama kalinya bawa nda berenang. Walaupun fasilitas kolam renangnya standar aja, bagi kami yang terpenting kolam renang ini cukup nyaman dan bersih.

Sebenarnya kolam renang ini salah satu fasilitas latihan militer, CMIW…lokasinya dekat dengan KODAM Brawijaya. Jadi ada papan ditulis di depan, kalau hari Selasa dan Kamis kolam renang ditutup untuk dipakai latihan. Harga tiket masuknya termasuk murah, week day cuman 8.000 rupiah saja, kalau week end atau tanggal merah 10.000 rupiah. Kemarin kami beli 6 tiket masuk, plus sudah siapkan nasi goreng buat krucil. Sebenarnya ada tulisan disana dilarang bawa makanan dari luar tapi aman-aman saja tuh alias gak digeledah saat masuk :mrgreen:

Ini ketiga kalinya kami maen ke kolam renang ini dan waktu lalu, nda belum ada tapi sudah ada di perutku 😀 Jadi ngerasa lucu aja, si bayi kecil yang dulu cuman ikut nemenin Mama nungguin kakak-kakaknya berenang, sekarang udah bisa diajak berenang bareng. Seru deh…

Berenang

Gak keliatan ya kalau lagi hamil :mrgreen: masih aja keliatan kurus dan ampun mukaku jelek banget waktu itu *tutup muka*

Dan kemarin gimana serunya berenang? Seru banget…Nda heboh banget maennya 😆 walau pertama kalinya dia masuk kolam renang dengan takut-takut, mana sempet minum air kolam pula…trus nungguin papa selesai niup pelampungnya. Papa sempet putus asa, ini pelampungnya susah amat ditiupnya, maklum baru aja beli…rupanya tersumbat, begitu lepas sumbatannya, mengembang deh pelampungnya 😀

just keep swimming

time to playing

foto di atas ketauan ya sapa yang masa kecilnya kurang bahagia :mrgreen:

Gak ikutan foto, jadi kali ini aku tetap menjadi tukang foto dan tukang jaga tas hehehe…maklum gak bisa berenang 😛 Lumayan puas kog walau capek juga nungguin anak-anak berenang. Nda sempet molor pulak waktu selesai berenang. Begitu melek, ehhh…mau nyebur lagi. Udah di pinggir kolam pengen nyemplung…hadeh nak, udah mandi, ganti baju, dandan cantik masak mau nyemplung lagi… *garuk-garuk kepala*

Sekalinya berenang, bocah-bocah pengen berenang lagi. Tunggu kesempatan berikut ya…

31 tahun kekasihku….

Hari ini hari yang bersejarah buat kami, terutama papa, karena 31 tahun lalu dia terlahir ke dunia :mrgreen: Jadi sesosok pria yang berbadan gembul, mukanya serius pendiem tapi aslinya slengek’an, kalem dan penyabar tapi kadang-kadang ngeselin dan cueknya ampun,…..and he is my hubby, love of my life….

Thanks to God kirimkan dia buatku, manusia yang mau mendampingiku di saat aku waras dan gila, lelaki yang mau berdiri di altar dan bersumpah untuk mencintai dan menjagaku seumur hidupnya……love you dear, sehat selalu, semoga sukses dan tercapai semua impianmu.

image

image

Untuk tahun ini….aku gak sempet bikin apa2 buat papa, kalau tahun lalu sih sempet bikin puding karena hari ulang tahunnya jatuh hari minggu. Kalau jatuh hari kerja, senin pula ya gak sempet…. 😛 istri males…jadi serahin ke toko kue aja. Dinnernya di Malioboro, Jl.Kartini, Surabaya. Ayam presto kremesnya endeusss, bisa dimakan sampek tulangnya….sayang gk difoto….udah keburu laperrrr….

Posted from WordPress for Android