Hati vs Logika

Tadi ngubek-ngubek facebook trus nemu note lamaku  di tahun 2009 :

Hati vs logika

Hati : hem andai aja km ikuti mauku…kita tdk akn menyesal.
Logika : jgn menyalahkn aku, lagi pula apa kamu yakin km benar2 tdk akan menyesal jika kita ikuti maumu?Hati: tentu saja, tapi km pengecut.

Logika : aku bukan pengecut!! Tapi aku tidak bisa menjadi orang yang gegabah dalam melangkah.

Hati : kamu terlalu bnyk pertimbangan…

Logika : ya tentu, karena aku tidak mau berlaku bodoh.

Hati : aku bukan bodoh, aku jujur dan bukan berpura2 sepertimu.

Logika : aku hanya berbuat apa yg benar dan masuk akal.

Hati : apa jatuh cinta bisa kamu prediksi? Hanya aku yang bisa dan aku selalu tepat.

Logika : baiklah…lakukan apa saja sesukamu tapi ingat apabila kamu tertipu, jangan salahkan aku.

Hati : itu sudah resiko.

Logika : kamu terlalu anggap remeh bahaya dan kamu terlalu rakus dan egois, cintamu itu terlarang, apa pernah kamu pikirkan apa yg akan dikatakan orang tentang kita?

Hati : sudah cukup kita berkorban untuk mereka? Aku punya kebebasan untuk mengutarakan mauku… Untuk bahagia seperti mauku…

Logika : sudah kubilang kamu terlalu rakus…

Hati : aku tidak rakus, aku hanya jujur…dan cinta butuh kejujuran… bukan pertimbangan untung dan rugi.

Logika : …..lakukan sesukamu dan kamu akan melihat bahwa yang kamu lakukan salah!!

Hati : dalam cinta tak ada salah dan benar….hanya ingin memberi dan tidak menuntut….biarpun aku harus menderita, aku tidak menyesal.

Logika : kamu terlalu naif teman…..tapi kalau itu maumu, aku akan lindungi kamu, hanya tidak ingin kamu terluka. Itu saja….

Hati : ….ehmm…

Hayo siapa yang sering ngalamin giniiii…hati sama pikiran gak kompak? Hahahaha atau jangan2 aku aja yang ngalamin ihikk 😛

Happy Wiken teman-teman

Kilau Pelangi

Karena gak ada ide postingan dan sedang males-malesan ngerjain ‘proyek nulis’ trus baca-baca tulisan di blog lama…ternyata ada cerita bagus yang bisa direpost. Sambil nungguin jam pulang yayyy……..

———————————————-***———————————————

Putaran itu semakin kencang, menikuk tajam dan menurun keras, semua menjerit termasuk diriku. Kepalaku tiba-tiba pusing dan hendak muntah. Mega mencengkram keras lenganku, kepalanya serasa ingin masuk ke dalam dadaku, menyembunyikan rasa takutnya yang besar pada ketinggian. Hari ini aku mengajaknya naik jet coaster, kemarin aku ajak dia ikut flying fox, entah besok apa lagi, aku ingin membawa dia melihat dunia lain yang bisa dia lihat dari atas ketinggian.

“Sumpah….jangan bawa aku ke tempat yang berbahaya lagi…..” umpat Mega sembari memegangi perutnya yang kejang karena tekanan tadi. Aku tertawa geli melihat wajahnya yang merah padam. “Hai…coba kamu nikmati saja tadi, aku bisa melihat pepohonan saat kita ada di atas tadi, dan tiba-tiba pepohonan hilang dan aku melihat seorang gadis cantik berjalan dari arah sana, sayangnya dia keburu hilang setelah kita turun….” jawabku dengan nada bersemangat. “Gila….masih sempet-sempetnya ya mata kamu jelalatan….” pekik Mega nampak marah dan dengan langkah terhuyung-huyung, dia meninggalkanku.

“Hai…jangan marah dong !” sahutku sembari mengejar langkahnya. “Aku cuman bercanda….jangan diambil hati….aku yakin kamu jauh lebih cantik dari gadis tadi….” rayuku pada Mega, Mega memicingkan matanya tanda tidak yakin akan ucapanku. “Alah….gombal!! Aku mau beli minuman, kalau tidak aku akan muntah nanti…aku rasa aku masuk angin sekarang dan perlu ke dokter…”

Itulah Mega, kerjaannya setiap hari mengeluh dan mengeluh. Sedikit-dikit merasa capek dan sakit, terkadang gampang sekali tersinggung hanya karena perkataanku yang tidak sesuai keinginannya. Aku berjalan di sampingnya seakan harus menuruti semua komandonya, jangan sekali-kali melawan, kalau aku tidak mau kehilangannya, dia temanku dan mungkin nanti suatu hari nanti dia bisa membuka hatinya untukku. Baru seminggu ku kenal dia sewaktu pertemuan karang taruna, maklum kami bertetangga. Baru kenal pertama, aku sudah tertarik untuk mendekatinya, mengenalnya dari dekat meski sikapnya sangat culas dan tidak bersahabat.

Dan sore itu sehabis seharian menghabiskan waktunya denganku, aku melihatnya ada sedang duduk di teras rumahnya. Duduk sendiri dengan novel-novel cinta yang saban hari kulihat tidak pernah lepas dari genggamannya, juga boneka teddy bear itu dari tadi menatap Mega dengan tatapan kosong seolah ingin bertanya. “Apa yang kamu sukai dari novel itu, sehingga kamu rela membuang waktumu untuk diam bersamanya ?” Aku terus memperhatikannya, sama sekali tidak ada senyuman yang terbit di wajahnya, aku penasaran dengan isi novel yang dia baca. Apa semuanya bicara tentang kesedihan sehingga aku harus melihat kerutan di dahinya semakin kentara ?

“Hai….” sapaku tidak sabar, menyapa terasnya dan masuk ke dalam rumahnya tanpa ijin dari siapapun. “Hei orang gila, apa yang sedang kamu lakukan ? Sapa suruh kamu masuk ke rumahku ? Apa yang mau kamu lakukan, lihatlah kakimu meninggalkan bekas kotor di lantai….” gerutu Mega mengikuti langkahku. Aku berjalan cuek dan tidak perdulikannya. Seorang perempuan tua bersama seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahunan sedang duduk nonton TV. “Hai….permisi….anda pasti neneknya Mega kan ? Saya Marvel, tetangga sebelah rumah….hanya ingin berkenalan saja!” sapaku kepada perempuan tua tadi, dan dia tersenyum, mempersilahkan aku duduk bersama mereka. “Nenek, jangan hiraukan dia…dia ini orang gila…tadi dia mengajakku ke taman hiburan dan dia menyuruhku naik jet coaster, tahu tidak aku pulang dan aku masuk angin gara-gara itu….dan aku belum sempat ke dokter sekarang…” tiba-tiba saja Mega masuk dan mengomel terus tanpa berhenti. “Hai, kak biarkan saja dia disini. Dia kan tetangga baru kita….hai, kak Marvel kalau naik jet coaster ajak saja diriku…aku pasti senang dan tidak mengeluh seperti kakakku yang cerewet itu….” seru anak perempuan kecil tadi dengan nada ramah padaku. “Hai diam kamu….Mela….” potong Mega sembari melotot padanya. “Hai…kamu ini kenapa kasar sekali pada adikmu sendiri. Hai, Mela, lain kali aku akan ajak kamu….” gerutuku pada Mega sembari membelai rambut Mela. “Ah…terserah saja. Dan Mela itu bukan adikku….dasar orang gila!” jawab Mega sembari meninggalkan kami. Mela menatapku nanar seakan ingin bercerita sesuatu, tapi dia kembali diam, aku berusaha bertanya tapi dia tersenyum saja.

Aku suka sekali memasak dan hari ini aku sibuk memasak spagetti di dapur, tapi ini bukan dapurku melainkan dapur milik neneknya Mega. Sedari tadi pagi aku menghabiskan waktuku di rumah Mega, bergaul dengan Nenek dan Mela. Mereka sangat ramah tidak seperti Mega yang galaknya mirip herder itu. Kami berdikusi panjang lebar tentang berbagai hal, Nenek sangat ramah dan dia seorang pengikut berita yang baik, semua berita di TV baik tentang selebritis hingga politik, dia ikuti….seru sekali bicara dengannya. Usianya yang sudah sekitar 60tahunan tidak menghalangi semangatnya untuk berdebat tentang isu permasalahan yang sedang marak dibicarakan di masyarakat….dia sangat cerdas dan dia juga terlihat cantik dan anggun di usia senjanya, aku mengaguminya. Dan Mela, meski dia masih sangat muda….atau kecil di usia 7 tahunnya, dia sangat cerdas, kepribadiannya sangat ceria dan bertolak belakang dengan Mega yang tukang ngomel dan penggerutu itu.

“Hai…orang gila sedang apa kamu bersama Nenek dan Mela ? Dapurku jadi kotor….” teriak Mega menganggu ketenangan kami bertiga. “Hai…Mega…sedikit ramah dong dengan Marvel. Lihat dia jago masak, kamu saja kalah dengannya, spagetti buatannya sangat enak….” ujar Nenek yang mugkin membuat telinganya panas. Dia merampas satu piring spagetti di tanganku. “Hah….aku bisa buat yang lebih enak dari ini tahu ???” ujarnya marah sembari membanting piring itu di meja dapur dan beranjak pergi.

“Apa kerjaannya di rumah cuma seperti itu, Nek ? Mengomentari pekerjaan orang lantas membanting dan pergi….bssst…bssst !” tanyaku dengan mengibaskan tanganku sembari tertawa kecil. “Entahlah…memang dia seperti itu selalu saja mengomel dari pagi hingga petang. Seolah seluruh dunia ini berantakan dan tidak memiliki tempat di hatinya…” jawab Nenek sembari berkacak pinggang. “Ayo…kita makan…spagettinya tidak enak kalau dibiarkan dingin. Biarkan saja nenek sihir itu kelaparan…” ujar Mela mengajakku menghabiskan spagetti buatan kami.

“Apa kamu sibuk ?” sapaku menghampiri Mega di kamar sembari membawa sepiring spagetti. “Hai…apa kamu tidak tahu sopan santun ? Laki-laki dilarang masuk kesini…” seru Mega mencoba mengusirku. Aku tetap bertahan dan tetap memaksa masuk. “Hai…aku hanya ingin ngobrol denganmu…tidak mau berbuat macam-macam. Kalau sampai aku macam-macam, kamu bisa panggil hansip kesini….” ujarku sembari mengambil kursi di sebelah dia yang sedang asyik utak atik internet. Ku raih sebuah novel di sebelah mejanya, belum berhasil, Mega sudah memukul punggung tanganku. “Aow…” “Sudah kubilang jangan macam-macam…”bentak Mega kasar dengan wajah yang kaku dan angkuh. “Oke…aku juga tidak terlalu tertarik dengan novel percintaan seperti itu, aku hanya ingin membaca judulnya saja…”Jika Cinta Jangan Ma….rah…” Aow…” teriakku saat mengeja judul novel tersebut, sekali lagi Mega memukul tanganku. “Hai…kamu kasar sekali jadi perempuan ? Seperti judulnya, jika kamu cinta aku, jangan suka  marah-marah dong…” godaku yang membuat Mega semakin marah. “Memangnya siapa yang cinta sama kamu, dasar orang gila !!!” “Oke…oke…dilihat-lihat muka kamu tuh kelihatan lucu saat marah…” Aku terus menggodanya sembari berusaha mencubit pipinya, dia memukul sekali lagi lenganku. “Dasar gila!! Aku heran bagaimana orang sepertimu diijinkan tinggal disini…aku akan mengadu ke Pak RT sekarang” Mega berdiri dari kursinya dan meninggalkanku, aku mengejarnya. “Hei…mau kemana ?” “Ke rumah Pak RT !” teriak Mega, Nenek dan Mela yang duduk di depan memperhatikan kami dengan terheran-heran.

“Kamu mau kemana sayang ?” teriak Nenek. “Ke rumah Pak Danu…RT kita…” jawab Mega dengan marah. “Pak Danu sudah bukan ketua RT kita lagi….2 hari lalu ada pemilihan ketua RT baru, nenek sihir tidak tahu kan? Baca novel melulu sih….” celetuk Mela dengan lirikan nakal. “Lantas siapa ketua RT kita yang baru ?” teriak Mega masih dengan emosi meluap-luap. Aku berdiri mematung dan bersikap tenang sampai akhirnya nenek menjelaskan. “Orang yang sedang berdiri di sebelahmu….dialah ketua RT yang baru….” “Hah ? Dia ???” jerit Mega sembari menoleh kepadaku dengan wajah tidak percaya. Aku mengedipkan mata nakal ke arahnya sembari bergaya seakan aku orang yang layak untuk dia beri hormat. “Bagaimana orang sinting seperti dia menjadi ketua RT disini….memang dunia sudah gila …..gila….” maki Mega sembari memegangi kepalanya. “Hai….hati-hati kalau jalan…siapa tahu kepalamu jatuh dan kamu tidak sadar….” teriakku yang disambut tawa lepas Nenek dan Mela. Aku tersenyum pada mereka. “Si Nenek sihir sebentar lagi akan menyerah…tenang saja…kita yang menang !” gumamku pada mereka.

Hari ini aku mengajak Mela jalan-jalan ke taman hiburan. Dia terlihat riang saat masuk ke arena permainan, langkahnya nampak ceria di antara ribuan pengunjung lainnya, dia terlihat bersinar. “Hai…tuan putri…jangan terlalu cepat melangkah, nanti kamu hilang. Nanti Nenek sihir di rumah bisa marah kalau tahu kamu hilang…” seruku berusaha menggandeng tangannya, karena seakan dia lepas kendali. “Ah…kakak….biarkan saja…Nenek sihir itu tidak akan marah jika aku hilang disini, justru dia akan mengangkat tangannya dan berterima kasih padamu…” seru Mela sembari melangkah cepat ke arah permainan, tembakan jitu yang berhadiah boneka. “Kamu mau aku bantu ?” tanyaku. “Kamu menginginkan bonekanya ?” Dia mengangguk perlahan, mata bulatnya terus mengawasi boneka yang dipajang. Aku mengambil pistol mainan dan berusaha menembak dengan jitu sasaran yang berpindah-pindah terus. Dor !! Ye!!! teriak Mela berbarengan dengan lepasnya peluru yang mengenai kepala sasaran. “Ye…menang !!”teriak Mela, petugas memberikan boneka kepadanya. “Makasih ya Kak…” teriak Mela bahagia.

“Kamu mau ceritakan sesuatu tentang nenek sihir di rumahmu itu ?” tanyaku pada Mela sembari makan es krim. Dia memandangku dengan senyum lucu khas anak kecil. “Nenek sihir membenciku, dia tidak biarkan aku menyebut dia kakak….makanya kupanggil saja dia Nenek sihir ! Dia lebih senang dengan panggilan itu….” “Kenapa harus membencimu. Adik manis sepertimu cuman 1 banding seribu….” tanyaku penasaran, ku sapu dengan tisu, es krim yang mengkotori pipinya. “Ibunya bukan ibuku….dia selalu bilang kalau ayah meninggal karena aku dan ibuku…” wajah Mela nampak sedih dan muram. “Hei…jangan sedih seperti itu…” hiburku menenangkan Mela. Mela memelukku erat-erat. “Aku ingin punya seorang kakak….” keluhnya perlahan. “Tenang saja….orang gila seperti aku bisa jadi kakak yang baik koq…” jawabku sembari membelai rambut panjangnya dengan penuh kasih sayang.

Kami kembali ke rumah, tampak nenek sihir berdiri dengan berkacak pinggang. “Hei…Mela…apa yang seharian kamu perbuat dengan orang gila seperti dia ? Kamu belum mengerjakan satu pun dari PR mu dan dua hari lagi kamu ujian…kenapa kamu malah bersenang-senang dan lupa akan tanggung jawab kamu ??” bentak Mega sembari menarik lengan Mela dengan kasar dan memaksanya duduk di kursi. “Hai…Mela masih capek. Kenapa kamu kasar sekali pada adikmu?”ujarku pada Mega, Mega balik memelototiku. “Apa urusanmu disini, Tuan RT yang terhormat, apa pekerjaanmu sebagai ketua RT disini hanya untuk mencampuri urusanku dengan keluargaku ? Aku tidak sedang meminta pendapatmu…dan aku juga tidak ijinkan kamu membawa Mela pergi selama dia masih punya tanggung jawab disini! Dan kukatakan sekali lagi, dia bukan adikku….” Mela mendengar kata-kata itu dan segera berlari ke dalam, menangis. ‘Lihat ! Apa yang kamu perbuat barusan ? Kamu melukai hatinya….bagaimanapun juga dia adikmu, meski mungkin kalian bukan dari Ibu yang sama….” bentakku karena emosi. “Dari mana kamu tahu semuanya ? Pasti dia mengadu padamu kan ?” Mega semakin keras menatapku, wajahnya nampak sedang marah besar. “Gara-gara dia Ayahku meninggal, gara-gara dia dan Ibunya yang tidak tahu malu itu….aku membenci mereka…” Mega berlari ke arah taman dan aku mengejarnya.

“Apa kamu pikir, Mela ingin dilahirkan dengan kebencian dari orang sekitarnya ? Apa dia punya pilihan saat dia dilahirkan ? Kamu tidak bisa membencinya dengan alasan yang bukan dia yang menciptakannya….” ucapku berusaha memberinya pengertian, meski mungkin sulit untuk mengubahnya. Mega berbalik dan menatapku perlahan, dia diam tidak membantah. “Percuma setiap hari kamu membaca novel percintaan, kalau hatimu sendiri tidak memilikinya….Padahal kamu dianugerahi dengan banyak cinta, dari Mela, dari Nenekmu yang bisa kamu syukuri….tapi yang kamu lihat hanya ketidak adilan dunia ini dan tidak melihat bahwa dibalik semuanya masih ada pelangi…seandainya kamu bisa melihatnya. Adikmu Mela memiliki mata yang indah bagai pelangi…” lanjutku sembari melangkah meninggalkannya sendirian. Ku dengar isak tangisnya terputus-putus di belakangku. Kulihat juga Nenek ada di ambang pintu dapur, menitikkan air matanya sembari tersenyum padaku. Aku menyapanya dengan hormat, dan berbalik ke rumahku sendiri.

2 hari aku tidak pergi ke rumah itu. Kujenguk teras rumahnya dan tidak kulihat Mega disitu. Novel-novel dan boneka teddy bear terlihat sendiri di bangku teras. Aku mendongak ke atas, mencari dia di jendela kamarnya, dia tidak terlihat. Kubelokkan pandangan dan memandang ke arah dek atap rumah yang terbuka, dimana biasanya pembantu rumahnya menjemur baju. Ku lihat Mega disitu, berdiri di pinggiran beton yang sangat tinggi dari permukaan tanah. Aku segera berlari, melihat bahaya yang sedang terjadi.

Ku menerobos ke dalam rumah, tidak ada siapapun. Nenek atau Mela, tidak ada. Pembantu rumah juga tidak terlihat, aku segera naik ke loteng dan memanjat tangga yang curam untuk sampai ke arah dek atap rumah. Aku melihat Mega sedang menangis sembari berdiri mematung di atas beton yang jika dia tidak jaga keseimbangan, angin bisa membuatnya terjatuh. Pemikiran seperti itu membuatku ngeri sendiri. “Apa yang kamu lakukan ?” sapaku perlahan agar tidak mengagetkannya. “Kamu sendiri sedang apa disitu, mengawasiku ?” jawab Mega tanpa menoleh padaku. “Turunlah…angin sedang bertiup kencang disini dan jika kamu tidak kuat, kamu bisa jatuh…” pintaku dengan sabar padanya. Angin bertiup kencang, hawa disini sedikit kasar, kemarau panjang yang membuatmu rindu akan hujan….melelahkan. Mega nampak menghela nafas panjang…

“Disini dulu Ayahku jatuh, bunuh diri karena tidak kuat menghadapi hidupnya yang buruk. Dia memiliki dua istri yang tidak bisa rukun. Ibuku dan Ibu Mela. Karena itu aku benci dengan ketinggian, karena disini yang terbayang hanya kematian….”keluh Mega perlahan. Aku menggelengkan kepala. “Turunlah…aku ingin bicara sebentar….” ajakku yang dijawab gelengan kepala Mega. “Dasar bandel !!” keluhku, terpaksa aku ikut memanjat beton dan mengatur keseimbanganku untuk berdiri tepat disampingnya. “Hei…bodoh. Kenapa kamu selalu ingin ikut campur urusanku ? Pergilah….aku ingin sendiri….” teriak Mega. Sssttt!! aku mengarahkan telunjukku ke bibirku. “Lihat ke arah sana….kamu lihat apa ?” sahutku kemudian mengarahkan telunjukku ke arah kanan, nampak dari kejauhan tepi pantai yang indah dengan butiran pasir yang mengkilat ditimpa cahaya matahari. Kening Mega berkerut. ‘”Aku tidak tahu jika rumah kita dekat dengan pantai…” “Karena kamu hanya ada di rumah dengan novel-novel dan boneka teddy bearmu….melihat kesuraman rumahmu dan tidak berusaha mencari dan melihat alangkah indahnya hidup ini yang luas dan layak disyukuri…”ucapku sembari memandang matanya yang nampak biru terkena sorotan lampu. Dia memandangku terus memandangku dan…. mulai tersenyum….ya dia tersenyum….kulihat pelangi di bibirnya yang indah.

“Marvel….” bisiknya. Pertama kali dia memanggil namaku, bukan dengan sebutan orang gila lagi. Aku berhati-hati berusaha melingkarkan lenganku di pundaknya. Senyumnya makin lebar, sekali lagi dia mencengkeram dadaku dan kepalanya seakan ingin masuk ke dalamnya. Aku tertawa. Aku sedikit menghentaknya, dia kaget dan hampir hilang keseimbangan, cepat-cepat kutangkap badannya. Dia tertawa lepas dan memelukku erat-erat.

“Kamu sangat baik, Marvel. Pantas jika Nenek dan Mela adikku sangat menyukaimu….” sahutnya perlahan, akhirnya dia pun menyebut Mela sebagai adiknya.

“Dasar Nenek sihir….” gumamku dalam hati.

Kulihat matahari mulai terbenam di pantai, dan Mega sepertinya tertidur di pelukanku. Nenek sihir telah berubah menjadi putri tidur ? Hahahaha….tawa lepasku membahana.

Apa Arti Sebuah Cinta?

Di kemeriahan malam itu, aku merasa sendiri, percuma saja aku kemari, jika hanya untuk melihat lalu lalang orang sibuk berebutan untuk membeli barang-barang murah di lapak-lapak pasar malam ini. Semua orang nampak bersemangat, tidak segan bersenggolan satu sama lain, suara mereka benar-benar gaduh, namun tidak satupun menarik perhatianku saat itu. Aku kesini hanya demi satu tujuan, mencari sebingkai mata indah yang menari-nari di antara keramaian malam itu. Sayang sekali hingga malam hampir larut, dia tidak ku temukan.

Putus asa kakiku melangkah dan aku pun memutuskan untuk  berbalik, sebelum akhirnya sebuah suara aku kenal berteriak di balik punggungku. “Dimas!!!” aku pun berusaha menebalkan telinga, mencoba menganalisa, benarkah suara itu memanggilku dan benarkah suara itu milik dia ataukah hanya halusinasiku. “Dimas!” sebuah tepukan mendarat di pundakku. Aku membalikkan badan dan melihat sebuah senyuman manis menghias wajah ayu. Benar, memang dia!

“Dari tadi ya?” sapanya merdu di telingaku. “Emmm…iya..aku nyariin kamu, gak keliatan dimana-mana” jawabku sedikit gugup. “Oh ya? Pengennya sih aku datang lebih awal tapi jalanan macet jadi ya baru bisa datang jam segini…” tutur dia sembari menyibakkan rambut kemudian melirik jam tangannya. Aku tidak bisa mendengar apapun, tidak bisa melihat apapun, hanya suaranya yang teramat merdu, hanya wajahnya yang ayu dengan rambut yang seolah bercahaya tertimpa sorot lampu. “Dimas…kog nglamun sih kamu?” Aku sadar dia memperhatikan sikapku yang tiba-tiba diam. “Oh…eh…iya ya…” sahutku terbata-bata. Seandainya bisa membelah diri, aku ingin separuh jiwaku disini dan menjawab ceritanya dengan “ya…tidak…em” sementara jiwaku yang lain boleh diam dan mengaguminya hingga dia beranjak pergi nanti.

“Rame banget ya, malam ini…aku tadi sempet beli satu potong baju baru loh, Dim. Trus sama sandal buat dipake di rumah, bagus kan?” celotehnya sembari menenteng sepasang sandal dengan kepala keropi di atasnya. Aku hanya manggut-manggut tanpa berhenti menatap wajahnya. “Kamu gak pengen beli sesuatu? Disana ada barang-barang bagus loh. Ayok…” tiba-tiba saja tangannya mennggandeng tanganku, seolah ada kejutan di antara jemariku, seperti aliran elektroda yang membuat hatiku melonjak. Masih saja aku berat melangkahkan kaki hingga dia menyeret tanganku untuk mengikuti langkahnya.

Aku hanya bisa menatap punggungnya, saat dia mulai berjongkok memilih beberapa pilihan dompet warna-warni. Aku tidak bisa berbuat apapun, badanku terlalu kaku untuk bisa bergerak. Entah kenapa kehadiranmu benar-benar seperti suntik mati buatku, kaku dan tidak bernyawa. Seolah semua kekuatan dan keberanian habis di belakangmu. “Dimas!! Diem aja sih…pilih-pilih dong, aku yang beliin deh…” tiba-tiba suara merdunya berbisik di telingaku. Seperti hawa hangat yang menghembus pada benda mati, tubuhku bergerak berirama “Ya..iya…aku baru punya dompet baru…” jawabku asal-asalan. “Tapi kan hari ini kamu ulang tahun? AKu belum kasih kado kan, Dim?” Aku tersenyum kaku, dia masih mengingat hari bersejarahku. Yang ku kira bakal dia lupakan setelah kita lama tidak bersama.

“Lihat dompet ini bagus…nih, buat kamu saja, Dim…” dia memberiku sepasang dompet koin berwarna coklat dan berukiran emas. “Kamu tahu kenapa aku pilih ini buat kamu?” tanyanya seraya menggenggam dompet itu bersamaku. “Lihat di sebelah sini, ada ukiran huruf DD. Cocok kan? Dimas dan Dara…ya, mungkin ini cuman merek dompetnya tapi ini cukup mewakili kalian berdua kan?” Aku menatap matanya yang tajam menusukku. Seolah diriku kembali ke putaran waktu yang berlarian di belakangku.

Dara…teman kecilku yang sangat rapuh, dia yang membawaku dalam ikatan janji yang tidak mungkin aku ingkari seumur hidupku. Aku telah berjanji akan melindungi dia dimanapun dan kapanpun. Tak seorangpun boleh menyakitinya, termasuk diriku. Saat itu aku tidak tahu membedakan apa itu cinta, apa itu persahabatan, yang aku tahu hanya kesetiaan. Dan aku menjaga kesetiaan itu hingga dewasa, hingga aku melingkarkan cincin pertunangan di antara jemarinya. Hingga…….dia datang dalam hidupku.

“Dim…kog nglamun sih?” ujar dia membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kecil tanpa bicara. Dia mengejarku dengan tatapan tajamnya… ”Dim, maaf aku tidak bisa menemui Dara. Aku tahu, kehadiranku hanya akan merusak kebahagiaan kalian berdua. Aku hanya berharap dia akan segera sembuh dan bisa mendampingimu selamanya. Aku juga tidak bisa hadir di pernikahan kalian, kau tahu kan aku tidak mungkin sanggup berada disana….” Dia berusaha menghapus air mata yang mengambang di pelupuk matanya yang indah, aku tidak sanggup melihatnya dan aku berusaha untuk menyekanya, meski tanganku bergetar tak bisa aku kendalikan.

Faysa….Dara memperkenalkannya setahun lalu. “Dia ini sepupuku Dim…tapi rumahnya jauh…dia kesini mau ikut kontes menari. Aku bilang, kalau tunanganku adalah seorang guru tari dan aku pengen kamu mau ajarin dia, Dim….” celoteh Dara waktu itu. Seorang gadis mungil yang berdiri di samping kursi roda dimana Dara duduk, dalam sekejap mata membuatku terhanyut. Dia tidak sekedar cantik, namun mata dan caranya tersenyum seolah menyalakan saklar lampu di sekitarku. Dia seperti mercu suar dimana setiap kapal yang tersesat mengharapkan kehadirannya. Secepatnya waktu berputar, Faysa membuaiku dalam sebuah perasaan yang sukar aku analisa, bukan seperti perasaanku pada Dara. Ini lain dan aku seperti kehilangan arah karenanya, kami saling memandang, kami saling mengagumi, tanpa sadar aku pun menciumnya dan di saat bersamaan, Dara menatap kami berdua. Saat itu aku sadar, aku untuk pertama kalinya, mengingkari janjiku pada Dara.

“Dimas…” bisiknya mengembalikan aku ke dunia nyata. “Ya…maaf Faysa, aku….” Lidahku kelu untuk bicara. Dia menggelengkan kepala. “Tidak ada yang perlu minta maaf disini, Dimas. Aku mengajakmu bertemu hanya ingin sekedar menitipkan doa untuk kalian. Besok pagi aku akan segera berangkat mencapai impianku sabagai seorang penari. Waktu akan terus berjalan dan aku percaya semua akan baik-baik saja…” Iya, semua akan baik-baik saja, gumamku dalam hati, tanganku masih menggenggam erat tangan Faysa. Dia memang indah, aku memang mencintainya tapi aku bukan lelaki yang bisa mengingkari janjiku sendiri. Aku akan menjaga Dara sampai batas waktu. Bukan karena rasa kasihan atas kerapuhannya, namun benar-benar karena aku ingin menjadi pelabuhan cinta terakhir, Daraku yang manis, Daraku yang rapuh.

Kami berpelukan beberapa waktu, pelukan yang menghangatkanku, pelukan yang menyembuhkan luka kami. Aku telah kehilangan mercu suarku, sesuatu yang meledak di hatiku dan mungkin hatiku kembali kebas namun jauh di dalam lubuk hatiku berkata bahwa hidup adalah sebuah pilihan dan pantang untuk menyesalinya. Kebahagiaan akan datang bila hati kita siap menyambutnya…

Kami berpisah malam itu, menapaki jalan masing-masing, menggerus malam untuk kembali membuka pagi baru.

“Cinta ibarat pantai bertemu dengan pasir, menggenggam erat tanpa ingin lepas

Cinta ibarat awan bertemu dengan bingkai langit, menyatu dekat tanpa ingin jauh.

Cinta ibarat hujan bertemu dengan bumi, membasahi dan mengisi tanpa ingin melukai”

Pagi Itu…

Pagi itu….

Tidak seperti pagi biasanya, entah apa yang salah, aku merasa bahwa aku tidak ingin beranjak pergi dari kasur. Langit nampak mendung, dahan-dahan pohon nampak bergoyang diterpa angin. Ada yang aneh di pagi ini, gumamku dalam hati.

Perlahan aku beranjak menutup jendela, udara terasa dingin sekali. Sebuah ketukan muncul di pintu kamarku. “Disna…disna…kamu sudah bangun?” panggil mamaku dari depan kamar. “Iya ma, sebentar…” jawabku seraya membuka pintu. “Kamu gak masuk kerja? Sudah jam 7 nak…” sapa mamaku dengan sabar. “Barusan hujan ya Ma? Maaf aku terlambat bangun, tidak sempat membantu Mama di dapur. Adik-adik sudah berangkat?” ujarku seraya keluar kamar. “Barusan saja adik-adikmu berangkat, dari subuh memang hujan, sekarang sudah reda…” jawab mamaku.

Aku duduk menghadap meja makan, sudah ada menu sarapan pagi terhidang. Sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat. “Hari ini hari apa ya Ma?” tanyaku pada mamaku yang sibuk membersihkan meja dapur. “Hari sabtu nak, memangnya kenapa?” “Sabtu?” pekikku tertahan sembari meraih kalender di dekatku. Sabtu tanggal 15…Oh Tuhan, aku melupakan sesuatu.

“Kenapa sayang?” ujar mamaku sembari mendekatiku. “Aku…harus segera pergi Ma, ada sesuatu yang harus aku kerjakan” jawabku. Aku segera berlari ke depan dan bersiap-siap untuk pergi. Mamaku menatapku penuh arti. Mungkin dia bingung dengan apa yang sedang membuatku tiba-tiba tergesa-gesa pergi. “Kenapa nak…mau kemana kamu? Kerja? Gak usah buru-buru to? Makan nasi gorengnya dulu..” “Sudah terlambat Ma, aku berangkat dulu ya…” sahutku seraya mencium pipi mamaku.

——————————–****—————————————

Pagar rumah itu tidak nampak terkunci, seperti barusan saja ada orang masuk dan lupa menguncinya kembali. Sepi…tidak seperti biasanya. Tidak terdengar gonggongan anjing menyambut langkahku. Benar-benar sepi…aku mulai meneriakkan sebuah nama “…Bram, kamu di dalam? Ini aku…Disna…” tidak ada suara menyahut dari dalam. Aku berusaha mengetuk pintu tapi ternyata pintu depan pun tidak terkunci. Aku makin curiga, aku pun mengendap perlahan ke dalam. Tidak ada seorangpun, juga tidak ada gonggongan anjing seperti biasanya. Aku teruskan langkahku ke dalam…sebelumnya aku meletakkan tasku di atas sofa dan bergerak seperti seorang pencuri sembari menyembunyikan sesuatu di belakang punggungku.

——————————–****—————————————-

“Bram…” teriakku berusaha mengagetkan orang yang biasanya bersembunyi di dalam kamar itu. Tapi ternyata orang yang aku panggil tidak ada, sebuah kaleng cat menggelinding dari luar halaman belakang. Aku terdiam curiga, kemana sebetulnya orang ini…aku menoleh ke halaman belakang, tidak ada siapapun tapi tiba-tiba aku dikejutkan dengan dengusan nafas di belakangku. “Buddy?” Anjing Germania Sheperd itu menggeret celana jeansku seolah ingin membawaku ke suatu tempat. “Mau kemana?” anjing itu hanya menatapku dengan mimik sedih sembari terus menggigit ujung jelana jeansku. “Oke…oke, kemana? Bram dimana?”  Buddy berlari ke arah halaman belakang rumah dan aku mengejar langkahnya dengan segera, ada sesuatu yang mencurigakan sepertinya. Jantungku berdebar keras kalau-kalau ada hal buruk terjadi.

“Ya Tuhan, Bram…!!!” teriakku keras pada sesosok tubuh lelaki yang terkulai lemas di dalam kamar mandi belakang. Di sekelilingnya berhamburan botol minuman dan jarum suntik. Aku langsung berjongkok dan memeriksa nadinya, dia masih hidup…aku meraih lengannya dan berusaha mengangkat lelaki itu. Dengan susah payah aku menyeret tubuh lelaki itu ke dalam rumah dan segera menelepon ke rumah sakit untuk meminta pertolongan. Cupcake yang aku sembunyikan tadi sudah hancur di lantai…hatiku memelas, semestinya aku ingin memberinya kejutan namun justru dia yang mengejutkanku pagi ini. Bram, semoga kamu baik-baik saja, sahutku sembari terisak-isak memeluk tubuh lelaki itu.

——————————–****—————————————

Bram dirawat di rumah sakit dan dinyatakan kalau dia over dosis, aku menggumam tidak jelas, lututku lemas. Ah…kenapa dia mesti berada di jurang yang sama, mengapa? Sampai kapan dia akan berhenti menyukai benda haram itu. Kenapa dia melakukan itu di hari ulang tahunnya? Tanyaku terbang ke awan dan tidak menemukan jawaban.

“Dia sudah siuman, dia mencari anda…” sahut suster membangunkanku dari lamunan.

Aku bergegas melangkah ke kamar dimana dia dirawat.

“Disna…” ujar Bram dengan nada memelas, digenggamnya jemariku erat-erat. Lelaki itu nampak lusuh, tidak terurus, wajahnya penuh cambang sementara rambutnya memanjang. Tetapi bagaimanapun dia adalah lelakiku dan aku jatuh cinta padanya.

“Bram, kenapa kamu lakukan itu?” sahutku sembari mencium jemarinya.

“Maafkan aku…” jawabnya singkat seraya membelai rambut cepakku.

“Bukan itu yang aku mau, Bram. Ikuti nasehatku, kamu harus masuk ke rehabilitasi…”

Bram menganggukan kepalanya. Sejuta kali dia begitu tapi kemudian dia akan menolak ajakanku dan kembali kepada benda haram itu…

“Ku mohon, Bram ini yang terakhir kalinya…lakukanlah demi…demi kita berdua” ujarku seraya memeluknya. Dia membelai rambutku perlahan.

“Aku tidak sanggup membayangkan harus kehilangan kamu, Disna. Lebih baik aku mati…” jawabnya dengan suara yang terperangkap di ujung tenggorokan.

“Aku tidak akan meninggalkanmu…apapun yang dikatakan orang tuaku, aku tidak akan meninggalkanmu. Karena itu Bram kumohon padamu, jauhi benda haram itu dan berjuanglah bersamaku. Aku yakin, kalau kamu mau berubah, orang tuaku pasti mau menerima kamu…”

Lelaki di hadapanku yang biasanya nampak begitu mengagumkan, jagoan, pemberani dan suka sekali menantangku beradu panjat dinding. Kini berubah menjadi pria lemah yang gampang remuk hatinya juga terkadang bersikap banci, pengecut dan penakut. Semuanya berubah ketika dia mengenal benda haram itu. Namun bagaimanapun dia, aku masih mencintainya…aku masih sangat mencintainya dan berharap suatu hari dia akan menjadi pedamping hidupku.

——————————–****—————————————

Seminggu berlalu dan Bram sudah mulai pulih, dan seperti yang biasa dia lakukan, dia menunda langkahnya untuk rehabilitasi. Aku berusaha bicara padanya berkali-kali hingga jutaan kali tapi dia tidak mau mendengar. Dia justru makin asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan seringkali mengabaikanku.

“Disna…apa ini?” tanya mamaku tiba-tiba sembari membanting tumpukan kertas di depanku. Ya Tuhan, itu adalah surat-surat cintaku untuk Bram yang tidak pernah aku sampaikan pada Bram dan hanya aku simpan dalam lemari pakaianku. “Itu…” aku kehilangan kata-kata menghadapi mamaku yang nampak sangat marah padaku. “Kamu masih suka berhubungan dengan lelaki pemabuk itu?”suara mamaku lantang dan suaranya itu terdengar papaku dari kamar sebelah. Papaku ikut menghampiriku. “Ada apa Ma?” tanyanya pada mamaku. “Ini loh Pa, dia ini masih berhubungan saja dengan lelaki bernama Bram itu yang pemabuk dan pemakai obat itu…” ujar mamaku seraya memperlihatkan surat-suratku pada papa. “Benarkah itu Disna?” tanya papaku dengan nada tegas. “Iya Pa tapi…” lidahku kelu, aku tidak sanggup membantah mereka. Memang lelaki yang kupacari adalah seorang pemabuk dan pemakai tapi apakah salah jika aku masih mencintainya hingga hari ini? “Nak, coba pikirkan baik-baik. Papa dan Mama gak pengen kamu menyesal di kemudian hari. Lelaki itu tidak baik untukmu, kamu akan menghancurkan masa depanmu sendiri dengan tetap mencintainya? Kalau memang dia mencintai kamu, tentunya dia sudah meninggalkan barang haram itu dan berjuang demi kamu….” kalimat yang diucapkan papa terasa berdengung di telingaku.

Sepanjang perjalananku ini, aku terus merenungkan kata-kata papa. Mungkin benar kata papa, Bram tidak sepenuhnya mencintaiku, dia lebih berat meninggalkan barang haram itu ketimbang memperjuangkan cintanya padaku. Dan dimana dia sekarang? Dia sibuk bersama kumpulan teman-teman barunya, dia sibuk dengan predikatnya sebagai vokalis band ternama, dia sibuk dengan barang haram itu dan dia lupa…dia lupa kalau sekarang adalah hari dimana aku berulang tahun. Dadaku terasa sesak sekali, aku berusaha menahan air mataku yang mengambang di pelupuk mataku.

——————————–****—————————————

“Happy birthday Disna…” sebuah kejutan datang untukku, saat langkahku masuk rumah, lampu yang sebelumnya dipadamkan tiba-tiba berubah terang dan berdiri disana, papa, mama dan adik-adikku membawa kue tart. Rumah pun sudah dihias begitu indah, penuh dengan balon warna warni. Satu per satu memeluk dan menciumku. Aku bahagia, sangat bahagia berkumpul bersama mereka. “Potong kuenya kak…” salah satu adikku menyodorkan kue tart ulang tahunku. Aku meniup lilin berjumlah 20 itu dan memotong sebagian kuenya dan menyuapkannya ke papa, mamaku memelukku sembari mencium pipiku. Sungguh bahagianya memiliki mereka, Ya Tuhan haruskah aku mengorbankan kebersamaan ini bersama lelaki yang hari ini entah dimana?

——————————–****—————————————-

“Itu kan Kak Bram!!” tiba-tiba adikku yang paling kecil menunjuk ke layar televisi. Aku menoleh ke arah televisi, aku kira Bram tampil dengan bandnya tapi apa yang aku lihat sungguh di luar perkiraanku. Bram nampak lusuh, berjalan di tengah keramaian dengan tangan terborgol, sementara polisi-polisi berjalan di belakangnya. Seperti malu, Bram menundukkan kepalanya dan lari terburu-buru. Papa mamaku memelukku yang terisak-isak dalam tangis, hatiku sedih, lelaki yang kucintai…kini harus diseret polisi ke penjara karena tertangkap basah sedang pesta sabu-sabu di sebuah hotel bersama beberapa pelacur. Ku peluk erat papaku dan dia membelai rambutku perlahan. “Tenang ya sayang…” Mamaku beranjak mematikan televisi dan  menyuruh adik-adikku pergi meninggalkan kami bertiga.

——————————–****—————————————

Pagi itu…sepi…aku berhadapan dengan Bram di ruang tahanan.

Aku melepaskan cincin pemberiannya 2 tahun lalu sembari berkata. “Maafkan aku jika aku harus meninggalkan kamu di saat seperti ini…” isakku perlahan.

Bram menatapku keruh. “Kamu tidak salah, Dis. Aku yang salah, maafkan aku. Kamu berhak untuk bahagia dan aku bukan orang yang tepat untukmu…”

Aku tersenyum padanya dalam tangisan.

“Semoga kamu segera bebas ya, Bram. Maafkan aku tapi sungguh aku tidak bisa mengorbankan keluargaku untuk terus bersamamu…perjalanan hidupku masih panjang…dan…aku tidak bisa menunggumu…”

Aku bergetar, berdiri dan berlalu meninggalkannya sendiri…

Aku mencintaimu Bram…semoga kamu mendapat jalan terbaik dalam hidupmu.

Pagi itu…berbeda dari pagi biasanya.

——————————–****—————————————
PS : cerita ini terinspirasi dari lagunya Kerispatih yang Tapi Bukan Aku hehehe, dipikir-pikir sekarang cocok juga ya cerita ini sama yang dialami sama vokalisnya Kerispatih, si Sami tuh yang barusan keluar penjara. Tauk lah, suka-sukanya aku yang ngarang cerita.

Membaca Diarimu…..

Pagi-pagi ini aku kembali duduk di depan layar komputer tercintaku, hari masih terlalu gelap, matahari masih malu-malu, hanya ada semilir angin dingin menemaniku dan tentunya secangkir kopi hangat.

Tak sabar hatiku buat segera menyapa dirimu…..memenuhi diarimu dengan komentar-komentar gak pentingku, sekedar ingin menunjukkan bahwa aku ada dan aku sedang memperhatikan kamu. Diari dengan tema bernuansa merah muda warna kesukaanmu. Tempat dimana kamu menumpahkan sejuta perasaanmu tentang hari-hari yang telah berlalu. Kadang kamu terlihat bahagia, kadang terlihat sengsara, kadang terlihat biasa saja….

Aku buka lagi ceritamu di bulan lalu, saat kamu menceritakan betapa menyenangkannya akhir pekanmu. Kamu menjawab komentarku kemarin dan menambahkan emotion senyuman lebar disana. Dan ini posting terakhirmu…kamu seolah menghilang dari hari-hariku dan aku berdebar ingin tahu dimana dirimu berada.

“Hai…apa kabar juga. Senang bertemu lagi.” itu saja balasanmu…dan membuat aku tersenyum bahagia, seolah hari ini nampak begitu indah, membayangkan wajah cantikmu tersenyum lebar menatapku.

Aku menambahkan komentar baru “Aku mau pulang…mau sesuatu yang bisa aku bawakan untukmu?”

Masih ingin berlama-lama disini, membuka diarimu, menatap senyuman manismu yang tersungging indah ketika kamu berpose bersama sahabat-sahabatmu. Oh…andai aku bisa hadir disitu, aku tidak sanggup……aku tidak sanggup bersay hello ke kamu setelah sakit hati yang aku tinggalkan di masa lalu itu. Dan……aku sekarang meninggalkan pesan bahwa aku akan pulang dan membawa sesuatu untukmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaiman terkejutnya kamu nanti melihat siapa sosok Mr. X yang sering singgah di diarymu dan membanjirinya dengan komentar gak penting, pujian yang terkadang cuman dijawab senyum kecil saja. Hemmm…aku tidak tahu, aku bergidik membayangkannya. Mengingat pertemuan terakhir kita.

Waktu itu kita hanya berdua, duduk di sebuah cafe dan ditemani dua cangkir kopi. Kita terdiam lama, tanpa saling menatap, kamu memandang jauh ke depan membelakangiku sementara aku hanya bisa membisu menatap punggungmu dan berharap kamu mau menoleh padaku sedikit saja. Sampai akhirnya kamu berbalik dan berdiri. “Ben…gue harus pulang, maaf…gue tidak bisa berlama-lama disini…” aku terhenyak dan berusaha mencegahmu pergi. Tapi aku kehilangan keberanian untuk bicara, aku sudah begitu bersalah padamu…. “Clara…maafin gue ya…” Kamu hanya menatap sinis padaku kemudian membuang muka. “Gak ada yang perlu dimaafin Ben. Semua udah jelas, selamanya kita gak akan pernah bersatu. Buang saja mimpi lo buat bisa bersama gue, gue paling gak seneng pacaran sama orang plin-plan kayak lo…” Dan saat itu aku menjadi pecundang yang tidak berani membela diri, aku terduduk lesu di kursi. “Gue…gak punya pilihan, Clara. Gue harus nikah dengan pilihan ortu gue kalo gak….” Kalimat itu gak sempet aku teruskan karena kamu sudah pergi….meninggalkanku.

Ya, selama beberapa tahun ini, aku terus memikirkan kamu. Pernikahanku batal karena aku gak sanggup lupain kamu. Aku bertengkar dengan kedua orang tuaku sehingga Mama harus dilarikan ke rumah sakit karena terserang stroke. Syukurlah, semuanya berlalu….dan mereka tidak lagi memaksakan apa yang menjadi kehendak mereka. Tapi ketika aku mencarimu lagi, aku tidak menemukanmu….aku terjatuh ke lubang penyesalan paling dalam dan menghabiskan semua waktuku untuk mengejar karirku di negeri asing. Hanya sebagai pelampiasan kekecewaanku yang tak habis. Hingga…suatu hari aku mengunjungi blog salah satu sahabatku yang tinggal di Indonesia dan mataku tidak bisa berpindah saat melihat sebuah komentar masuk dengan avatar cantik yang sedang aku cari…..

Clara, aku tidak tahu kata pertama apa yang akan aku ucapkan saat kita bertemu nanti……..

Tapi aku melihat harapan itu ada, kamu pernah menyinggung soal kita di diarimu. Soal perkenalanmu dengan lelaki dari negeri singa, bagaimana kamu terpesona dengan cara dia memujimu, cara dia memperhatikanmu dan keinginanmu untuk bisa bersamanya suatu hari nanti. Aku harap, dia adalah aku….aku harap bisa mencuri hatimu lagi walau aku harus memakai topeng terlebih dahulu.

———————————————****——————————————-

Aku sengaja mengatur pertemuan kita di kafe ini. Ingatkah kamu, pertama kalinya aku melamarmu disini, dan terakhir kalinya kamu meninggalkanku sendirian…

Aku melihatmu, duduk dengan gelisah di sofa itu. Sesekali memperhatikan jam tangan, sesekali menghirup kopi untuk menghilangkan kegugupanmu. Aku berdiri disini…tak jauh darimu, aku masih takut untuk bertemu denganmu.

“Ada yang mau dipesan lagi mbak?” sapa salah seorang waitress padamu. Kamu menggelengkan kepala. Dia meletakkan tisu dan setangkai mawar di mejamu.

“Apa ini?” tanyamu bingung.

“Itu dari seseorang mbak, dia minta anda untuk menunggunya sebentar…” Kamu mengerutkan alis sembari mengamati mawar merah di tanganmu. Aku melihat kamu seperti mengumpat kesal dan meletakkan kembali mawar merah itu di meja.

Dan berikutnya kiriman sepotong blueberry cheese cake datang padamu. “Saya tidak pesan…” jawabmu ngotot, tapi akhirnya kamu menerimanya. Kamu menatap lama pada kue itu kemudian menggelengkan kepala. Aku berharap isyarat itu sampai padamu…

Kembali datang ke tempatku untuk ketiga kalinya saat hampir saja karena kesal menunggu kamu mau beranjak pergi. Sebuah diary kecil berwarna merah muda.

“Dimana sih mbak, orang yang suruh mbak kirim ini itu? Saya mau ketemu…” maki kamu marah-marah pada waitress. Dengan kesal, kamu membuka diari itu. Alismu berkerut lagi kemudian pandanganmu menjelajah ke seluruh ruangan seolah penasaran siapa dalang di balik semua kekonyolan ini.

Kamu terduduk kembali, seolah sedang berpikir untuk pergi atau mengikuti pesan di diari kecil itu. Aku cemas, berharap kamu segera mengambil keputusan. Akhirnya kamu berdiri kembali, sejenak menatap pintu keluar, hatiku berdesir dan sejenak kemudian akhirnya melangkah ke arah tangga menuju lantai atas.

Sebuah denting piano mengalun perlahan menghantar kedatanganmu di atas balkon. Angin semilir membuatmu kedinginan, kamu mendekap lenganmu berusaha membuang jauh rasa dingin itu. Matamu menyapu ke semua latar. Meja besar dengan dua kursi. Lilin. Bunga. Semua hal romantis yang pernah kita lakukan bersama dulu disini ada…lagu ini yang aku buat untukmu, aku tahu walau tidak memperhatikanmu, kamu pasti mulai ingat dan merasa siapa dalang di balik kekonyolan yang terjadi padamu baru saja.

Aku pun menghampirimu setelah menyelesaikan satu nada. Seketika kekagetan muncul di wajahmu. “Lo?” serumu seraya menunjukku. “Ya…ini gue…Ben” “Jadi…” kamu masih bingung dengan kehadiranku. “Ya…selama ini Mr. X dari negeri singa itu gue, Ra…” Kamu menggelengkan kepala cepat dan buru-buru hendak pergi, aku mengejarmu dan segera menarik tanganmu. “Ra…tunggu…” Kamu terdiam walau masih nampak kekecewaan tergantung disana. “Ngapain lo kejar-kejar gue lagi? Pake nama samaran dan semua kekonyolan ini…dari tadi gue juga udah curiga…semua kekonyolan ini seolah ada hubungannya sama lo…tapi gue aja yang bodoh dan masih bisa lo kibulin…” Kamu marah tanpa jeda. Aku hanya bisa terdiam….kamu berhak untuk kecewa. “Maafin gue Ra. Gue takut juga malu kalo langsung sapa lo dengan identitas gue yang sebenarnya, takut kalo gue kehilangan lo lagi…”

“Takut kehilangan gue??” teriak kamu. “Yang bener aja. Bukannya lo yang mau kawin ama orang laen dan ninggalin gue? Hahaha…” tawamu terdengar runcing di telingaku. “Ben…udah lah. Gak usah lagi kejar gue…hidup gue sudah berjalan mulus lagi tanpa lo…gue males…yah…udah deh, gue pulang” “No…no..no…” teriakku berusaha menangkapmu, sejauh ini perjuanganku buat cari kamu gak boleh rusak hanya sampai disini. Aku meraih pundakmu dan memelukmu walaupun kamu berusaha melepaskannya tapi aku tetap memelukmu. Aku tidak mampu berkata apa-apa selain ingin memelukmu saja. “Lepasin gue…” teriak kamu keras dan berhasil menjauh dari pelukanku dan plak…sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku menatapmu keruh dan kamu pun mulai berkaca-kaca….

“Please Ra…jangan tinggalin gue buat kedua kalinya. Gue salah…gue akuin, gue salah…”  dan kita terdiam beberapa menit , hanya saling menatap, hanya saling memandangi dengan perasaan masing-masing. “Gue gak akan maksa lo balik lagi sama gue Ra….gue cuman pengen mengulang kebersamaan kita dulu disini, di hari ini…di ulang tahun gue. Itu saja. Gue gak berani berharap banyak…karena… karena gue udah sakitin lo…” gumam ku datar seraya memandangi wajahmu yang memerah karena air mata. “Maaf kalo kedengerannya gue egois….tapi gak ada yang lebih gue kangenin di hari ulang tahun gue, selain lo…” lanjutku. Kamu berusaha menghapus air matamu dan meraih tanganku perlahan. Sambil menahan isak tangis kamu berkata.

“Selamat ulang tahun Ben….” Aku terdiam, memandangi jemarimu di tanganku. Ada sebentuk cincin melingkar disana. Hatiku terhenyak, cincin polos itu seolah menamparku kembali. “Gue  barusan menikah Ben. Sayangnya gue gak pernah cerita di blog gue…gue udah nemuin pengganti lo…maafin gue…” aku tergetar kaku seolah tak percaya mendengar ceritamu. Apa ini cerita di balik hilangnya dirimu dalam sebulan ini? Memberi sebuah kejutan yang bisa saja membunuhku sebelum bertemu denganmu.  “Lelaki yang pernah gue ceritakan, yang udah mencuri hati gue…lelaki dari negeri singa juga…dialah orang yang kini menjadi suami gue….” lanjut ceritamu. “Jadi…lelaki dari negeri singa itu bukan gue?” tanyaku kaget, selama ini aku kira bahwa kamu tertarik padaku setelah obrolan kita di diarimu. Kamu menggelengkan kepala perlahan. “Bukan…dan gue kesini juga sebenarnya mau ketemuan sama  suami gue sekalian kenalan sama lo….karena lo sama-sama warga negeri singa seperti suami gue…”

Selayaknya saklar, perkataanmu seolah sedang mematikan saklar di hatiku, yang sebelumnya terang karena harapan bisa memilikimu lagi dan kini gelap kembali…….

“Gue harus cabut Ben, suami gue telepon…” ujarmu seraya pergi. Aku tidak lagi mengejarmu, hanya melihat dari atas tangga, seorang lelaki datang dan memelukmu. Sebuah ciuman mendarat di pipimu, dan seketika pipimu merah merona, kamu pergi bersamanya. Aku hanya bisa terdiam, diiringi semilir angin yang mulai bertiup kencang dan menyenggol lilin yang berada di atas meja dan membakar kain putih pembungkus meja. Hatiku sedang terbakar namun tidak dapat berbuat apapun, aku memang selayaknya patah hati…aku memang selayaknya tergantikan.

 ———————————————****——————————————-

Sore-sore enaknya ngeblog…. tapi bingung apa yang mau diblog, ya udin, bikin aja cerita asal wkwkwkwkwk daripada pusing tunggu jam yang gak nyampe-nyampek di angka 5.

Intinya dari cerita ini, jangan pernah plin-plan pada pilihan, yang ada ntar nyengir sendiri ketika apa yang sebenarnya kita inginkan udah lewat di depan mata. Sampai nanti di postingan berikut ya… ^_^

Cerita Burung Kertas Part 4 # Akhir

“Kau sedang apa, baby?” tanya Romi padaku saat kami bertemu di sebuah café. Dia sibuk dengan capucino hangatnya sementara aku sibuk dengan kertas-kertas konsep Ladies baru. “Ladies…” jawabku dengan singkat tanpa memperhatikannya. “Kamu sibuk dengan Ladies sementara kamu bilang kamu akan memperkenalkanku dengan Anggun dan siapa laki – laki itu….hem…Josh ya Josh. Mana yang akan kamu dulukan ?” gumam Romi memandangiku dengan muka penuh tanya. “Entahlah…aku sendiri bingung. Oh ya, bisakah kamu membantuku sekali lagi?” pintaku dengan wajah memelas pada Romi. “Ada apa lagi?? Kamu sedang merencanakan apa? Kenapa harus sekali lagi melibatkan aku?” jawabnya sembari menaikkan alisnya. “Jadilah salah satu nara sumberku, ini soal konsep baru Ladies. Jadi begini, aku ingin merombak Ladies menjadi sebuah majalah yang lebih realistis dan menyentuh kehidupan wanita itu sendiri, sesuai namanya. Bukan hanya sekedar majalah fashion tetapi majalah wanita…dimana peran utamanya adalah wanita…” Alis Romi makin menyudut, aku tahu pikirannya tidak jauh dari yang dipikirkan Richard saat aku menyampaikan ideku. “Selama ini peran utamanya adalah fashion, tetapi kali ini wanita jadi fokus dari edisi-edisi Ladies selanjutnya…” ujarku sembari tersenyum dan mata menerawang. “Maksud kamu jadi semacam bulletin yang mengupas serba-serbi wanita, bukan hanya fashion tetapi macam-macam lainnya. Misalkan gossip? Hem…ramalan sodiak, resep masakan, kisah-kisah rumah tangga gitu?” Tuh kan, yang dipikirkan oleh Romi hampir sama dengan yang ada di kepala Richard? Dasar tuyul. “Bukan….perlahan nanti kujelaskan, yang penting kamu mau jadi salah satu nara sumberku atau kamu bantu aku dengan referensi fashion baru, bukannya kamu sekolah fashion di Paris, kota model? Bagaimana kamu tidak tahu…” teriakku kesal. “Terserah aja, apa sih yang nggak buat kamu, baby?? Kamu mau tanya apa dari diriku…kalau masalah resep masakan, pastinya aku tahu salah satu menu Prancis yang enak” ujar Romi semakin membuatku kesal, sementara dia tersenyum manyun. “Shitt…dasar orang tidak berguna!” gumamku sembari mendelik padanya.

——————————————————–***———————————————–

            Sementara itu Anggun sibuk di kantor, menyiapkan proposal untuk mempresentasikan produk asuransinya ditemani oleh secangkir coklat hangat di mejanya. “Bu…ada yang cari Ibu di bawah…” sebuah panggilan masuk melalui telepon dari meja sekretarisnya. “Siapa?” Anggun paling tidak senang jika kesibukannya tiba-tiba harus dia tinggalkan untuk seorang tamu yang tidak memiliki janji dengannya. “Bapak Josh, bu! Apa boleh dia saya persilahkan masuk ke ruangan Ibu?” jawab sekretarisnya perlahan membuat Anggun bangun dari kesibukannya. “Josh…”desahnya lirih. “Em…tidak usah. Biar saya saja yang turun, kamu suruh dia tunggu di loby saja” “Baik, bu…”. Anggun tertegun sesaat, sudah hampir 2 hari ini dia tidak menerima kabar dari Josh bahkan sepertinya dia kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengannya. “Apa yang dia kerjakan disini??” gumam Anggun penasaran.

            “Hai, Josh…maaf menunggu lama…” sapa Anggun saat melihat pria yang berdiri di loby memang Josh. Josh tersenyum manis, matanya yang indah terbingkai rapi oleh kacamata minusnya. “Aku tahu ini pasti hari yang sibuk, maaf telah mengganggu…tetapi ini sudah jam makan siang, apa kamu tidak keberatan jika aku mengajak kamu makan siang bersama?” lanjut Josh yang membuat hati Anggun yang memang menunggu ajakan itu, berbunga – bunga. “Yah…hari yang cukup melelahkan. Jam tiga aku harus menemui klienku. Baiklah, sepertinya aku juga sudah lapar…” Mereka berdua meninggalkan kantor dengan berjalan kaki menyusuri koridor yang menghubungkan bangunan perkantoran itu dengan sebuah mall yang menyediakan banyak gerai makanan di food courtnya. “Sudah dua hari tidak ada kabar, apa kamu baik-baik saja?” tanya Anggun mengawali obrolan karena sedari tadi Josh terlihat diam saja. “Yah…hanya sedikit sibuk dengan hotel…tidak sempat meneleponmu, sory ya!” Josh meminta maaf karena tidak menelepon Anggun, Anggun tersipu malu seakan Josh masih memiliki hubungan istimewa saja dengannya sampai-sampai Josh tidak enak hati karena telah lupa meneleponnya. “Kamu mau makan apa?” tanya Anggun berusaha mengalihkan pikirannya cepat-cepat. “Terserah kamu, apa kamu masih suka dengan chicken teriyaki disini? Bukankah itu menu favorit kita dulu?” jawab Josh sembari menatap Anggun yang tersipu malu seraya menghindar dari tatapan mata Josh.

            Mereka duduk di restoran yang merupakan kenangan mereka berdua sembari menunggu chicken teriyaki dihidangkan. “Kita kesini untuk kedua kalinya…” ujar Anggun menatap mata Josh yang sibuk menikmati keramaian sekeliling mereka. “Masih sama seperti dulu…” jawabnya “Dulu untuk pertama kalinya kita berlibur pulang ke Indonesia dan makan disini…aku kira kamu sudah lupa dengan tempat ini” sambung Anggun dengan hati yang berdebar, dimana dia sendiri tidak mengerti arti debaran itu, bukankah ini bukan yang pertama kalinya dia bersama Josh? Josh tersenyum lirih. “Bagaimana kabar May?” tanyanya kemudian. “May?” Anggun tertegun sesaat. “Em… yah dia baik-baik saja walaupun dia sebenarnya sedang disibukkan dengan konsep Ladies terbarunya. Dia sedikit tidak terurus tetapi aku yakin dia bisa…” Josh terlihat manggut-manggut. “Oh ya…dia butuh seorang fotografer untuk membuat foto-foto yang akan dia presentasikan. Kurasa mungkin dia butuh bantuan kamu…” sambung Anggun. Josh berpaling padanya dengan cepat. “Kenapa dia sendiri tidak meminta bantuan padaku?” “Entahlah…aku juga tidak tahu” ujar Anggun sembari menerima sepiring chicken teriyaki yang datang ke meja mereka. “Ayo makanlah dulu…selagi masih hangat nasinya” ajak Anggun, Josh mengambil sendok dan garpu dan melahap chicken teriyaki yang masih mengepul hangat. Anggun tersenyum menatapnya. Dia sangat menyukai kebersamaan itu dan ingin waktu berhenti saja agar dia bisa terus bersama Josh untuk sementara waktu.

            “Sampaikan pada Mayang jika dia butuh bantuanku, dengan senang hati aku akan membantu…” ujar Josh di perjalanan pulang mereka. Anggun menganggukkan kepalanya perlahan. “Awas….” Tanpa sadar Anggun hampir menubruk seorang cleaning service yang membawa peralatan bersih-bersih dan berpapasan dengan mereka, Josh menarik pinggang Anggun dengan cepat. Anggun berteriak kaget dan tubuhnya terdorong kearah Josh. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Josh sembari tangannya masih menggandeng tangan Anggun. “Tidak apa-apa…aku ceroboh dan tidak berhati-hati” jawab Anggun sembari mengangkat kepalanya dan mendongak ke atas melihat senyum Josh yang mengimbangi gerakan kedua bola mata Josh yang memandangi wajah Anggun. “Masih seperti dulu…” Anggun bengong menatap Josh sementara Josh perlahan melepaskan genggaman tangannya. “Aku permisi dulu, sampai nanti…” sapanya sembari melangkah meninggalkan Anggun. Anggun menatap punggungnya bergerak menjauh sementara hati Anggun entah tertinggal dimana, apakah di restoran chicken teriyaki tadi ataukah ikut melangkah bersama kaki Josh? “Masih seperti dulu…apa maksudnya?” desah Anggun sendiri sembari mengerucutkan bibirnya.

—————————————————***—————————————————-

            “Sampai mana konsep Ladies?” tanya Anggun padaku yang terlihat sumringah di depan laptopnya. “Hanya tinggal foto-fotonya saja setelah itu selesai…” jawabku sembari mengangkat daguku menatapnya yang sedang mengenggam gelas berisi jus jambu merah buatannya. “Kamu bisa minta bantuan Josh kalau kamu mau, kemarin aku bertemu dengannya dan sepertinya dia tidak keberatan untuk membantumu…” Josh?? Oh, no… haruskah orang itu yang membantuku kali ini, tidak adakah fotografer lainnya walaupun tidak sehebat dia? “Yah…bisa saja…aku tidak ingin merepotkannya” kalimatku terbata-bata menjawab ajakan Anggun. “Sudahlah…dia sama sekali tidak keberatan kog, dan bukankah konsep yang mahal seharusnya fotonya juga harus berkelas dan itu tidak bisa kamu peroleh dengan hanya mengandalkan fotografer murahan, May. Josh itu sudah pasti akan dengan mudah menguasai konsep yang kamu ingin kerjakan…” Aku mendesah panjang sembari menutup mataku. Yah, ini kan bukan masalah percintaan tetapi Ladies dan apa yang dikatakan Anggun itu benar. “Tunggu apa lagi, cepetan telepon dia…” sambung Anggun kembali menyakinkanku.

————————————————–***—————————————————–

            Hari ini adalah waktunya pemotretan. Lokasinya jauh dari Jakarta, tepatnya di kota Pekalongan bersama Ibu Susan dan keseluruhan hidupnya. Josh aku suruh mengambil gambar koleksi batik Ibu Susan kemudian keseharian beliau, keluarganya, hobi dan koleksi beliau. Ladies yang baru akan segera terbit, ah…aku sangat lega…tetapi ini belum finish, Richard belum tahu bagaimana konsepnya akan seperti apa. Dan ini batas terakhirku sebelum Richard menceramahiku dengan seribu argumennya. “Hai, bagaimana menurutmu hasil fotonya, kamu boleh sortir yang tidak perlu…” ujar Josh menunjukkan padaku hasil pemotretan yang dia simpan didalam laptopku. “Akan aku periksa kemudian…em Josh…” “Yah…” Josh menjawab tanpa memperhatikanku, dia sibuk membersihkan kameranya. “Menurutmu wanita itu seperti apa ?” tanyaku yang dijawab dengan kerutan di dahinya. Sejenak kemudian dia mulai beragumen. “Wanita  bagiku adalah kasih sayang…mahkluk yang mewakili rasa kasih sayang, dia lembut dan penuh perhatian tetapi juga kuat dan dapat melindungi…” aku tidak menyangka pernyataan seperti itu muncul dari bibir Josh. “Siapa wanita yang pernah menjadi inspirasi kamu?” pertanyaanku selanjutnya bukan berusaha memancing Josh, namun sepertinya dia tidak menyukai pertanyaanku. Dia duduk jauh di seberang mejaku. “Ada” jawabnya singkat. “Aku tanya siapa?” Dia tidak menanggapi pertanyaanku justru membuang mukanya…”Seseorang yang memiliki kasih sayang yang sangat besar bahkan pada sesuatu yang tidak berharga…” demikian jawab Josh sembari tersenyum. Jawaban yang mengambang, membuatku menjadi sedikit kesal. “Kamu sendiri?” dia balik menanyaiku. Aku bergumam dan mulai berfikir. “Wanita itu tangguh…..dia sangat luwes saat berada di meja dapur menyediakan makanan untuk seisi rumahnya. Tetapi dia juga sangat diandalkan saat berada di lingkungan dia bekerja. Wanita itu bisa menjadi segalanya hanya untuk orang yang dia cintai…dia tidak pernah keberatan akan pekerjaan apapun selama itu bisa membahagiakan orang yang ada di hatinya” jawabku panjang lebar, Josh termenung sembari merebahkan kepalanya di atas bantalan kursi. “Siapa wanita itu?”

            “Anggun…..” jawabku sederhana, Josh mendongak dan menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum sembari berdiri dari tempat dudukku dan mendekat ke jendela dimana derai hujan turun kian lebat. “Dia wanita yang sangat tangguh. Dia menjadi inspirasiku. Dulu aku bertemu dengannya, dia masih 19 tahun tetapi dia sudah mengenal apa itu perjuangan hidup. Dia seorang anak yatim piatu yang diasuh oleh neneknya. Dia bekerja sebagai pekerja kantoran kecil dekat tempat aku tinggal. Kemudian tidak berapa lama, dia melihatku, seorang gadis berusia 13 tahun yang dekil dan bau sedang tiduran di depan emperan toko. Aku sebenarnya bukan gadis yang miskin, keluargaku lebih dari sekedar berkecukupan tetapi mereka tidak pernah memberiku kasih sayang. Aku kabur dari rumah dan terlantar di jalanan bersama teman-teman sekolahku, dalam keadaan aku sedang kecanduan narkoba yang aku pakai sejak umurku masih 10 tahun. Hanya Anggun saat itu yang begitu memperhatikanku, meski usia kami hanya terpaut 6 tahun namun aku melihatnya seperti seorang Ibu yang penuh kasih sayang padaku……Aku diterima di tengah keluarganya yang walaupun kekurangan namun penuh cinta. Beberapa tahun kemudian, dia mendapat beasiswa untuk melanjutnya kuliahnya di Ausi. Sementara itu aku kembali ke keluargaku. Sampai akhirnya kami bertemu kembali di Jakarta dan aku putuskan untuk tinggal bersamanya…” mataku berkaca-kaca, kulirik Josh yang sedang menatap diriku tanpa berkedip.

            “Setiap kali aku melihatnya aku menjadi malu dengan diriku. Dia begitu tangguh dan kuat sehingga dengan kerja kerasnya, dia bisa merubah nasib buruknya menjadi sebuah keberhasilan sementara aku yang lemah dan sering bertingkah buruk, menyia-nyiakan masa mudaku hanya karena menggilai narkoba dan kehidupan bebas, hanya bisa melarikan diri dari satu masalah kepada masalah lain….aku seorang pecundang” Air mataku menetes turun dan ku lihat ternyata Josh sudah berdiri di sampingku. Dia merengkuhku dalam pelukannya yang hangat. Detik itu terasa panjang, tangisku menjadi sesengukkan yang menyesakkan dada. Hatiku yang selalu merindukan kasih sayang, hatiku yang rapuh dan mudah diremukkan oleh badai permasalahan. “Dia mengajariku bagaimana menatap kehidupan sebagai bengkel pembentukan diri, menjadikan masalah sebagai cambuk untuk melecut kita berlari semakin kencang…” lanjutku terbata-bata sembari perlahan melepaskan pelukan Josh. Josh menyibakkan rambutku yang jatuh menutup wajahku. “Maaf, seharusnya aku tidak menumpahkan perasaanku seperti ini” jawabku serasa malu saat melihat tatapan tulus Josh yang begitu dekat di wajahku.

            Tanpa sadar seseorang memperhatikan kami berdua, tepat di belakang kami. “Hai, maaf…” Romi??? Ternyata Romi telah berdiri sejak tadi dan kini sedang tersenyum melihat aku dan Josh. Dia terlihat tampan dengan kemeja licin yang dipadukan dengan celana blue jeans. Aku tidak mengira dia akan muncul saat kebersamaan kami, antara aku dan Josh. Mungkin ini kesempatan baik untukku memperkenalkannya pada Josh, namun barusan….pelukannya tadi, ah….entah apa yang aku pikirkan, aku membiarkan mereka saling bertatap muka tanpa bicara. Masing-masing saling menilai dan aku hanya terdiam. “Romi…” ujar Romi mendahului pembicaraan sembari mengulurkan tangan pada Josh. “Josh” jawab Josh sembari menyambut uluran tangan Romi. Romi menatapku yang masih sibuk mengendalikan emosi yang baru saja meledak-ledak. “Aku tinggalkan kalian berdua…” kata Josh perlahan meninggalkan aku dan Romi. Ada guratan kecewa terlihat di wajahnya, aku mungkin merasakan hal yang sama namun kurasa itulah yang terbaik, antara kita tak boleh ada rasa. ”Baby, kenapa koq nangis?” tiba-tiba pertanyaan Romi membuyarkan lamunanku. “Gak apa-apa koq. Tadi cuma lagi cerita-cerita aja sama Josh” jawabku sembari tersenyum. “Oh…tadi seharusnya aku gak masuk dulu ya, biar kamu bisa lama-lama sama dia…” goda Romi sembari tersenyum nakal. “Sudahlah…kamu sendiri kog kesini?” jawabku sembari menepuk pundak Romi. “Tentu saja untuk menjemput kamu…pulang ke Jakarta, bukannya kamu yang minta aku kesini, kog lupa sih ?” sahut Romi mengerutkan alisnya. “Rom, peluk aku…” “Apa?” Romi mendongak dan menatapku tidak mengerti. Akhirnya aku yang menarik kemeja Romi dan mendekapnya, aku tahu sepasang mata sedang memperhatikan kami dari depan pintu yang terbuka lebar. Josh sedang mengobrol dengan asistantnya dan berhenti sejenak untuk melihatku. Dia menatapku yang berpelukan dengan Romi kemudian beranjak pergi dengan tatapan acuh.

——————————————————–***———————————————–

            Kami bertiga kembali ke Jakarta, Anggun menyambut kami di rumahnya. Dia menyediakan makan malam yang enak buat kami. Entahlah…saat melihatnya berduaan dengan Josh di dapur terkadang membuatku merasa tersingkirkan. Aku mencoba membuang perasaan ini dan pura-pura sibuk membantu menata makanan di meja. “Hai…Romi” sapa Anggun saat melihat Romi mencicipi pudding buah di atas meja. “Hai…pudding ini sangat lezat, kamu pandai masak ya!” puji Romi berbasa-basi. “Thank you…aku sudah dengar berita pertunangan kalian, aku heran bagaimana itu bisa disembunyikan dan aku sama sekali tidak tahu tapi sudahlah…em…aku belum memberikan selamat pada kalian” ujar Anggun seraya mengulurkan tangannya pada aku dan Romi. Kami menyambut jabatan tangannya seraya saling berpandang-pandangan. “Ayo, kita makan…” ajak Anggun. Josh duduk di sebelah Anggun berseberangan dengan Romi. Kami makan tanpa satupun yang bersuara. Kulirik Josh nampaknya bersikap acuh padaku semenjak perjalanan kami pulang. Aku tahu mungkin dia kecewa dengan kehadiran Romi yang tiba-tiba. “Bagaimana hasil fotonya? Aku belum mendengar sedikitpun cerita dari kalian…” tanya Anggun bergantian menatapku dan Josh. “Yah…foto-fotonya ada di laptopku, mungkin nanti kamu bisa bantu aku mensortirnya karena semua foto yang Josh kerjakan sangat bagus”jawabku sembari meletakkan sendok dan garpuku di samping piring. Josh tersenyum simpul menatapku dan kembali menatap piring makan yang sudah habis isinya. Anggun tersenyum memandang kami berdua. “Oh ya, aku membawa bingkisan dari Ibu Susan, beberapa kain batik yang terbaik dari pabriknya untuk diberikan kepadamu.” ujarku perlahan. “Oh…aku sangat menyukai kain batik buatan pabriknya….apa kamu tahu dia juga punya butik baju pengantin yang ternama. Jika saja kalian nanti menikah, kalian bisa memilih gaun pengantinnya disana….” Aku dan Romi saling bertatapan muka sementara Josh mendongak memperhatikan kami. “Itu terserah Mayang saja, aku pikir dia akan terlihat cantik jika memakai kebaya….” jawab Romi sembari tertawa kecil, aku membalas tawanya. Melihat kami berdua, ada raut bahagia di wajah Anggun. Entahlah, apakah aku memang begitu pandai berbohong….hubungan yang tidak ada antara aku dan Romi tiba-tiba menjadi begitu menarik untuk dilihat.

———————————————————-***———————————————

            “Hai…mau ?” Anggun menawarkan jahe hangat pada Josh yang asyik duduk di beranda depan. “Sedari tadi kamu diam, ada masalah?” sapa Anggun sekali lagi sembari duduk di samping Josh. Josh menggelengkan kepala, dia asyik memainkan kameranya dan sesekali membidik bintang yang bersinar terang pada malam itu. “Aku bahagia sekali melihat Mayang bersama Romi. Walau terkadang aku meragukan hubungan mereka, tetapi sepertinya mereka serius menjalaninya…..” sambung Anggun seraya tertawa lirih, Josh menatapnya lekat-lekat. “Sewaktu di Pekalongan, Aku dan Mayang membahas sebuah pertanyaan….” Anggun menoleh padanya dengan raut penasaran. “Tentang siapakah wanita yang menjadi inspirasi kami berdua dalam hidup…dan saat gilirannya, dia menjawab jika wanita itu adalah kamu…”“Aku?” Anggun tertawa kecil, gigi putihnya berderet rapi sementara wajahnya merona merah. “Kenapa aku, aku tidak melakukan apapun untuknya….” “Dia menceritakan semuanya tentang kalian, dia menyebutmu sebagai wanita yang tangguh dan sanggup melakukan apapun untuk orang yang dicintai….” tawa Anggun semakin deras sementara Josh menatapnya dengan mata berbinar. “Aku tidak melakukan apapun untuknya, jika dia merasa berhutang budi denganku, itu sama sekali tidak benar….dia bisa seperti sekarang karena kemauannya yang keras dan aku sendiri hanya memberi motivasi saja” jawab Anggun menyibakkan rambutnya yang diterbangkan angin. “Dan kamu sendiri….kamu jawab apa?” lanjutnya penasaran. “Aku menjawab jika wanita yang memberiku inspirasi adalah wanita yang bagiku penuh kasih sayang…Bukan aku tidak memberi arti untuk Ibuku tetapi kebetulan saja bukan dia yang kupikirkan saat itu.” Josh menjawab sembari membelai pipi Anggun. “Lantas siapa?” tanya Anggun tidak mengerti. Josh tertunduk seraya memainkan kameranya. Dalam bening hatinya dia mulai mengungkapkan kekagumannya. “Kamu…” bisik Josh. Anggun mendengar kalimat yang dibisikkan Josh terlihat tersipu malu dan berusaha menghindari tatapan Josh, dia memilih untuk tertawa kecil sembari memandangi bintang-bintang di langit yang malam itu begitu terang bersinar.

            “Bagaimana bisa kamu memikirkan aku saat menjawab pertanyaan itu? Itu aneh sekali!” “Entahlah…tiba-tiba aku ingat saat pertama kalinya aku mengagumi kamu, waktu kamu mengambil anak kucing yang terbuang di sampah. Kamu membalut luka di kakinya dan merawatnya sekian lama meski ada peraturan bahwa tidak boleh membawa hewan peliharaan di apartemen kamu dan juga cerita Mayang, kamu telah membawanya dan memberikan arti hidup buatnya, itu semua menunjukkan jika kamu adalah wanita yang penuh kasih sayang…” tawa Anggun kembali berderai mendengar kata-kata yang dilontarkan Josh barusan. Memorinya kembali mengingat saat mereka masih bersama berada di tempat yang jauh dari negeri sendiri. “Dan pada saat itu kamu memarahiku karena membawa anak kucing itu ke hotel tempatmu bekerja bahkan kamu mengusirku, kamu jahat sekali!” Josh pun tertawa saat mulai mengingat kenangan mereka berdua selama di Ausi. “Kucing itu bau dan menjijikkan…” “Tidak, dia sangat manis…seandainya kamu melihat saat dia selesai dimandikan, dia sangat cantik” bantah Anggun saat Josh menertawakan apa yang dilakukan Anggun pada saat itu. “Hem…Aku tidak melakukan apapun…dan sekarang aku tidak tahu anak kucing itu ada dimana. Dan Mayang? Kamu tidak bisa samakan dia dengan anak kucing!” Josh pun tertawa berderai. Anggun menatap Josh dengan tatapan penuh arti. “Kalian terlalu berlebihan mengartikan apa yang aku lakukan, aku hanya ingin berbagi itu saja…” “Aku masih menyimpan foto anak kucing itu!” gumam Josh melirik ke arah Anggun. “Dimana?” “Ada…” sahut Josh perlahan. “Hem…oh ya, menurutmu bagaimana jika kita paksa Mayang dan Romi meresmikan pertunangan mereka, aku yakin bahwa Mayang pasti belum menceritakan hal itu kepada orang tuanya. Mereka jarang sekali berkomunikasi….huh” tiba-tiba Anggun mengalihkan pembicaraan yang membuat tawa Josh berhenti, dia mendengus tanpa menanggapi. “Kenapa diam?” tanya Anggun, Josh mengangkat bahunya “Kamu jauh lebih mengerti bagaimana baiknya…” jawab Josh sembari tersenyum.

            Aku melihat kebersamaan mereka dari dalam ruang tamu, mereka berbagi cerita hingga larut malam sambil tertawa berderai. Aku tidak enak hati jika menganggu mereka jadi kuputuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Kebersamaan mereka terkadang memang yang kuharapkan tapi tak jarang itu menimbulkan api cemburu yang sebenarnya tidak layak aku simpan.

—————————————————***—————————————————-

Akhir Tapi Belum Tamat 😆

Kayaknya gak mungkin diterusin sampai ending jadi silahkan berimajinasi sendiri, endingnya seperti apa…. :mrgreen:

//

//

Cerita Burung Kertas Part 3

“Hai…kamu tidak bermaksud meninggalkan buket lili ini dikantor kan ? Bawa pulang sana atau aku suruh Ujang membuangnya ke tempat sampah…” maki Lusi dengan nada kasar padaku saat kita hendak pulang. Aku mendongak kesal padanya, bagaimana aku membawa buket lili sebesar itu pulang ke rumah, aku kan naik bus lagipula apa reaksi Anggun tahu aku mendapat bunga lili itu dari Josh ? Dengan sedikit menggerutu aku terpaksa membawa buket bunga lili itu pulang. Selama di bus orang-orang sibuk memperhatikanku, ada yang memuji, ada yang jahil menggodaku, untung saja hari itu aku tidak selesai bertengkar dengan Richard, kalau iya bisa-bisa aku lampiaskan amarahku dengan mengajak orang yang jahil denganku di bus untuk tengkar habis-habisan. Kulihat mobil Anggun belum nampak terparkir di rumah, aku menaruh lili-lili sialan itu di dekat tempat cucian piring. Lain kali aku akan bilang Josh kalau aku sama sekali tidak suka bunga atau apapun yang berbau perempuan, membuatku mual. Sejenak aku akan meninggalkan lili-lili itu begitu saja sampai aku ingat belum melepas kartunya, buru-buru aku melepasnya dan membuangnya di tempat sampah walaupun sebenarnya sayang sekali, bukankah itu tulisan Josh pertama untukku. Sedikit menyesal tapi aku mulai memikirkan reaksi Anggun nantinya jika membaca kartu ucapan itu.

———————————————-***———————————————————

“Hai…kenapa kamu menggeletakkan buket bunga di tempat cucian piring sayang…dari siapa itu ?”sapa Anggun saat pulang. Aku diam saja, pura-pura sibuk dengan laptopku. Kulihat dia sedang duduk membolak-balik majalah barunya. “Aku heran Josh tidak menelponku seharian, aku mengenal dia selama 2 tahun, selalu saja di hari valentine ada yang istimewa…dia tidak pernah lupa memberiku bunga atau hadiah lainnya. Dasar…si cuek itu kenapa sekarang tidak bisa bersikap sedikit manis denganku” keluhnya tiba-tiba. Dasar laki-laki bodoh, sepantasnya bunga itu buat Anggun bukan buatku…salah alamat ! “Kenapa tidak protes ?” jawabku perlahan. “Percuma, May. Dia pernah bilang, cinta tidak selalu harus dibuktikan dengan bunga, cukup melihat dari perhatian dia saja, aku baru bisa menilai…” sambungnya sembari menengok padaku dengan tersenyum, aku menuding padanya. “Aku rasa itu bukti yang lebih kuat. Aku mandi dulu” Aku beranjak meninggalkannya dan masuk ke kamar mandi.Tiba-tiba dering handphoneku berbunyi. “May…ada hand phone kamu bunyi!” teriak Anggun. “Kamu angkat saja…” teriakku. Kudengar suara Anggun mengangkat handphoneku. “Josh ? Kamu menelpon May ? Dia sedang mandi, ada apa ?” Aku menyandarkan telingaku di pintu kamar mandi saat tahu yang menelponku adalah Josh, ya Tuhan kenapa laki-laki itu masih saja nekat menghubungiku. “Tidak ada apa-apa koq…” jawab Josh saat hand phoneku di loud speaker oleh Anggun. “Josh ? Kamu masih ingat restoran sea food yang ku ceritakan, apa kamu tertarik ?” ujar Anggun, aku tersenyum kecut mendengar tawa lirih Anggun yang terkadang membuatku iri, cemburu tapi juga bahagia. “Ya…kamu pengen kesana ? Gak apa-apa, aku sedang nganggur juga…May ?” jawab Josh tapi masih menyebut-nyebut soal diriku. “Nanti kutanyakan apa dia mau ikut…”

Aku keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambutku yang basah dengan handuk. “Sayang, aku akan keluar dengan Josh. Kamu mau ikut ?” ajak Anggun sembari tersenyum ceria. Aku menjawabnya dengan bahasa tubuhku yang memberinya isyarat kalau aku tidak suka menjadi sapi ompong di antara mereka, tidak mau merana sendiri di tengah bahagianya mereka. “Tidak…” jawabku sembari mendekat dan mencium pipi Anggun. “Happy Valentine Day…oh ya…aku lupa bilang kalau bunga lili di dapur itu kiriman Josh…kurasa itu buat kamu. Eits tapi jangan bilang apa-apa padanya atau mengucapkan terima kasih padanya, cukup tunjukkan padanya kalau kamu senang karena dia sudah membuat harimu ceria” Aku melihat rona merah di wajah Anggun yang bersemu karena bahagia, dia buru-buru mengambil buket lili itu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ya Tuhan apa yang aku lakukan, aku telah melakukan sebuah kesalahan, aku memberikan kebahagiaan semu buat Anggun. Semoga dia mengampuniku. Tapi aku sungguh bahagia melihat rona merah di wajahnya tadi, membuatnya bahagia sama artinya membahagiakan diri sendiri.

Josh menjemput Anggun, dia terlihat sangat rapi dengan kemeja yang kelihatannya masih baru sementara Anggun sendiri berdandan sedikit istimewa seakan mereka memang sedang berkencan saja. Aku memperhatikan mereka dari jendela kamarku, kulihat Josh mendongak seolah mencariku, aku buru-buru menutup tirai dan membiarkan mobil mereka bergerak melangkah pergi.

——————————————————-***————————————————

 “Sayang…kemarin malam Josh terlihat sangat tampan dan aku bahagia sekali…” ujar Anggun dengan mata berbinar-binar, langkahnya nampak berirama saat berada di dapur menyiapkan sarapan kita berdua. Aku yang sedang membantunya membuat roti panggang, memperhatikannya dengan serius. Inikah cinta itu, yang kulihat di bola mata Anggun…nampak menari-nari membuat wajah Anggun terlihat semakin cantik. Mungkin itu rasa indahnya jatuh cinta yang membuat orang tergila-gila, yang kulihat di langkah-langkah ringan Anggun di sela-sela senyumannya yang muncul diam-diam. Aku meletakkan roti panggang di atas piring dan meninggalkan Anggun sibuk mengaduk teh hangatnya. Aku melirik laptopku yang masih menyala hingga pagi gara-gara sibuk memikirkan ide buat perkembangan Ladies, majalah yang dibanggakan Richard. Ada inbox di emailku. Pertama… dari Josh ???

‘Hai…kenapa aku tidak melihatmu semalam di rumah ? Kamu juga tidak balas smsku dan bagaimana lilinya, kamu suka tidak ? Sebenarnya aku ingin mengajak kamu pergi, bagaimana dengan bersantai di tepi pantai, aku ingin sekali memotret kamu…Love, Josh’

Konyol, Josh aku harus segera melenyapkan niatmu untuk tetap mendekatiku.

Email kedua, dari Romi, si gay yang ku akui sebagai pacarku.

‘Hai…nona bawel bagaimana kabarmu ? Aku segera akan meluncur ke Indonesia sesegera mungkin, aku merindukan kamu sayangku. Jangan lupa siapkan budget untuk menjamuku sepuas-puasnya…masih mau jalan-jalan denganku di Anyer ? Sound great, aren’t you baby? Cup…cup muah…hahaha…’

Dasar Romi sialan, akhirnya kamu datang, kamu satu-satunya senjataku untuk menyingkirkan Josh dari hidupku…aku jadi miris mendengar ideku sendiri, apakah benar ini yang kuinginkan, kalau semuanya buat Anggun kurasa itu mungkin.

——————————————————-***————————————————

“Hai…May, dimana kamu ? Aku telepon dari kemarin tidak kamu jawab ?” umpat Romi saat menelpon ke telepon rumah. Aku tertawa lepas, bahagia rasanya mendengar suara malaikat penyelamatku. “Aku sibuk, gara-gara Richard memberiku tugas berat untuk merombak habis konsep Ladies…memangnya kamu dimana ?” jawabku dengan nada bersemangat. “Kamu pikir aku ada dimana ? Menara Eiffel ? No, honey…aku sudah di Jakarta, di tempat biasanya kita bertemu…sudah jam 12 malam, kutunggu kamu secepatnya” ujar Romi tidak kalah bersemangat. “Ha ?? Bagaimana aku bisa kesana, tidak ada mobil, Anggun belum pulang….” keluhku kesal pada Romi yang seenaknya mengatur pertemuan. “Masih ada taksi jam segini, baby…” jawabnya enteng, dasar gay sialan. Akhirnya aku keluar rumah dan pergi dengan taxi menuju tempat yang sudah kami janjikan. Sebuah club malam, tempat kami biasa nongkrong hingga pagi, dulu… Kulihat Romi sudah menunggu di kursi depan meja bar. Suasana malam itu ramai sekali, aku sudah lama sekali tidak kesini dan semuanya terasa asing buatku setelah bertahun-tahun terkurung di rumah Anggun. “Hai…my baby…long time no see…” sapa Romi memelukku. Dia terlihat tampan dan modis, siapa yang akan mengira dia seorang gay, semua perempuan akan setuju kalau dia adalah pria yang menarik. “Kamu sudah pesan minuman ?” tanyaku sembari melihat kalau dia hanya duduk merokok disitu. Dia menggelengkan kepala, aku menarik lengannya sembari memesan minuman, pindah ke sofa dan duduk berduaan dengannya. Dia merangkulkan tangannya ke pundakku, sementara aku sibuk menyalakan rokokku. “Aku traktir kamu minum sepuasnya…” ajakku. Dia melirikku dengan wajah curiga. “I know you baby, pasti kamu sedang butuh bantuanku…” Aku tertawa keras hingga badanku ikut terguncang. “Kamu benar, kamu satu-satunya penolongku…” “Why me ?” tanyanya memandangiku lekat-lekat. “Karena kamu satu-satunya teman dekat laki-lakiku…” Kening Romi berkerut, dia nampak lucu dengan wajah penuh tanda tanya seperti itu.

“Yah…sebenarnya ada satu lagi laki-laki, maksudku Richard…tapi apa mungkin aku minta bantuannya ? Kamu satu-satunya…” sambungku sembari menuangkan minuman untuknya. Dia tertawa kecil seraya meneguk minumannya perlahan, “What can I do for you ?” tanyanya, aku mengatur dudukku, menghisap rokokku dengan nikmat, mengamati setiap kepulan asapnya yang menari-nari di wajahku. “I’m falling in love…” jawabku yang membuat dia mendelik. “Siapa laki-laki nakal yang sedang berusaha mencurimu dariku baby ?” “Josh…” jawabku sembari tersenyum pada Romi. “Josh…” sambutnya sembari manggut-manggut. “Lantas masalahnya ?” “Romi, masalahnya adalah Josh ternyata mantan pacar Anggun dan Anggun ingin sekali kembali pada Josh…aku serba salah, Rom dan aku ingin Josh menjauhiku…karena sebenarnya aku tahu dia juga menyukaiku…” Romi menggelengkan kepala, tertawa kecil mendengar curhatanku. “Jadi ceritanya bersaing dengan kakak kamu yang kamu bilang soul mate kamu, dan lantas dengan apa kamu akan membuat Josh menjauhimu ?” “Karena itu aku butuh kamu…” potongku tidak sabar. “Me ? Memangnya apa yang bisa aku lakukan buat Josh menjauhimu ?” jawab Romi nampak kebingungan. “Jadilah pacarku…” jawabku sekenanya, dia tertawa terbahak-bahak. “Sayang…kamu belum menyentuh minuman ini sedikitpun tapi kamu sudah mabuk, you know honey, itu tidak mungkin…” “Kenapa tidak, kalau perlu aku akan bayar kamu…yang penting kamu mau pura-pura jadi tunanganku yang akan segera menikah denganku…” aku menjadi bingung menyakinkan Romi bahwa situasiku sangat mendesak. “Pertama kamu bilang jadilah pacarku dan selanjutnya kamu bilang jadi tunangan yang akan segera menikah denganmu…you drive me crasy baby ?” “Rom…please ini situasinya sangat mendesak dan aku butuh kamu…” paksaku sembari mencengkeram lengan Romi, Romi tidak menoleh sedikitpun padaku, dia justru asyik menikmati hentakan musik yang mampu menghipnotis setiap telinga yang ada di ruangan itu. “Sayang…pernah kamu berpikir sesuatu ? Dari dulu kamu selalu saja membiarkan Anggun memenjarakan seluruh kebebasanmu…dan sekarang dia mencintai pria yang sama dengan yang kamu suka, kenapa kamu tidak berusaha ikuti kata hati dan tidak terus-terusan berkorban demi Anggun ?”

“Romi…kamu bilang apa sih soal Anggun, kamu tidak kenal siapa dia ? Aku sangat takut kehilangan dia, jika dia melarangku keluar malam, bertemu teman-temanku, merampas rokokku mengisolir aku agar penyakitku tidak kambuh dan tidak mengijinkanku menyetir sendiri karena aku suka mabuk, aku tidak pernah keberatan. Karena aku tahu dia melakukannya karena dia mencintaiku…dan aku pun tidak keberatan dia mengambil semua duniaku asal dia tidak pergi kemana-mana. Romi, aku terlalu mencintainya sehingga aku tidak akan mengijinkan diriku sendiri menyakitinya…dan aku tahu dia sangat mencintai Josh…” keluhku perlahan dengan kalimat tidak beraturan, kurasa sesak memenuhi dadaku. “Tapi sampai kapan kamu akan berpura-pura ?” bantah Romi. “Kalau perlu seumur hidup aku akan berpura-pura demi dia…” jawabku dengan mata yang menghangat. Romi memandangku dengan muka masam. “Jangan libatkan aku baby…” “Romi !!” teriakku kesal pada Romi, hanya dia harapanku sekarang. “Baby, aku hanya mengingatkanmu, kalau kamu tidak jujur pada perasaanmu sendiri dan berbohong pada semua orang dan bertindak seolah-olah kamu pahlawan bagi mereka sementara jiwamu merana, kamu tidak akan pernah merasakan bahagia yang sebenarnya. Jika Josh lebih memilihmu, bukannya itu sudah sebuah alasan untuk Anggun mengalah padamu… pikirkan semuanya, girl. Dan ingat namaku memang Romi, tidak usah kamu teriakkan seperti tadi…dan kamu bukan Juliku…” Romi bergerak menjauhiku, aku berusaha menggapai tangannya dan dia hanya tersenyum nakal padaku. Dia turun ke lantai dansa, dasar gay sialan…aku masih ingin bicara denganmu, makiku dalam hati.

Aku bergerak meninggalkan mejaku untuk menelepon Anggun. “Hai, Anggun…” “Ya, sayang ada apa ?” jawab Anggun masih dengan nada bersemangat padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. “Aku tidak sedang di rumah, Anggun. Maaf kalau aku tidak ijin sebelumnya, aku tadi menjemput Romi dan kami jalan-jalan sampai malam, dan sekarang aku akan menginap di rumah keluarganya yang ada di Jakarta. Besok pagi mungkin aku langsung kerja jadi…maafkan aku…Anggun” ujarku tanpa berhenti, tidak memberikankan kesempatan buat Anggun untuk memarahiku. “Oke…jaga dirimu baik-baik sayang…” jawab Anggun mendesah panjang. Kututup teleponku dan kembali ke dalam, mencari gay sialan yang meninggalkanku sendirian, kulihat dia berada di antara wanita-wanita berdandan seksi yang asyik menggodanya. Dia nampak risih, aku tahu kalau dia justru mengincar laki-laki tampan yang bisa diajaknya kencan. Ku perhatikan dia berjoget dengan menaikkan kedua tangannya seolah dia menghindar dari keagresifan seorang perempuan yang sedari tadi meliukkan badannya menggoda Romi. Aku tertawa kecil sampai dia menoleh ke arahku dan memberi aku isyarat untuk menghampirinya. Aku memotong jalan perempuan tadi dan mengajak Romi berdansa. “Ngapain joget seperti itu…sepertinya perempuan tadi ingin mengajakmu kencan…” bisikku pada Romi. Romi mengelengkan kepalanya, dia memeluk pinggangku dan kami berjoget bersama, dia memang pandai menari dan berdansa, aku dibawanya larut dalam hentakan musik. Kami tertawa bersama, suasana malam itu kian beranjak menjadi sangat hangat “Mau ke Anyer gak besok pagi. Lupakan Richard, aku ingin kencan hingga pagi denganmu, baby !” ajak Romi dengan kedipan nakalnya. “You drive me crasy baby…” jawabku sembari menyilangkan tanganku di belakang pundaknya.

Sampai pagi aku masih bersama Romi, tertidur di dalam mobil yang dia parkir di halaman parkir mall. “Rom…kamu mabuk…bangun!!” teriakku sembari mendorong kepala Romi yang menempel di pundakku. Romi bangun sembari mengusap kedua matanya. “Good morning…baby” sapanya sembari mengusap-usap kepalaku. Aku tersenyum memandangnya yang masih kelihatan tampan meski tampangnya acak-acakan, mungkin dia lumayan untuk dikencani tapi dia tidak pernah buatku jatuh cinta. “Kita cari sarapan yuk…” ajakku sembari mengambil alih kemudi mobil. “Hai…kamu juga mabuk…tidak boleh nyetir, bisa-bisa kamu mencelakakan aku juga…” teriak Romi memukul pergelangan tanganku. “Aku hanya minum dua gelas saja Rom…” bantahku masih ngotot ingin menyetir. Dia akhirnya mengijinkanku menyetir, aku berteriak senang, sudah lama rasanya menahan keinginan di hati berjalan-jalan dengan kendaraan yang kusopiri sendiri. “Jangan ngebut-ngebut…” omel Romi yang melihatku tidak memperhatikan kecepatan, aku mengejeknya dengan senyuman sinis. Kami sarapan pagi bersama, nampaknya dia sudah rindu masakan Indonesia, terbukti dia menyantap nasi pecel dengan lahap sekali. “Enak ya Rom…” godaku gemas melihatnya. Dia berkedip padaku sembari menguap kepedasan. Aku menggeser gelas minumku padanya. “Rom…bantu aku, please…” Dia menatapku lekat-lekat. “Apa kamu tidak berubah pikiran setelah aku mengingatkanmu semalam ?” Aku menggelengkan kepala dengan muka kubuat memelas. “Oke…honey terserah kamu, selama aku disini, aku akan lakukan apapun demi dirimu…” jawabnya yang membuat hatiku berseru bahagia. Tiba-tiba dia mencium pipiku. “Hei apa yang sedang kamu lakukan ?” teriakku seraya menepuk pundaknya. “Bukannya kita baru jadian ? tunangan ? mau married ?” godanya nakal padaku, aku tertawa kesal. “Sory baby…aku hanya akan menciummu sekali saja…” Aku mengibaskan tanganku memberinya isyarat kalau aku tidak marah padanya. “Aku pesan minuman lagi…”pamitku meninggalkannya sesaat.

Handphoneku berdering, bergetar di meja membuat selera makan Romi terganggu. Dia menoleh padaku yang memberinya isyarat agar dia mengangkat atau mematikannya saja. “Halo…May masih pesan minuman…siapa ya ? Josh ?” Spontan aku menoleh dan cepat-cepat kembali ke meja. Romi memandangku dengan wajah bingung. “Ya…aku Romi…” Aku mengejakan kalimat di depan Romi, Romi menirukan kalimat itu. “Romi, tunangan May…yah…nanti aku sampaikan…oke…” Romi mengakhiri pembicaraan dan memandangiku dengan wajah tidak mengerti. “Apa dia Josh yang kamu bicarakan ?” “Yah…baby…you right…” teriakku senang sudah memulai langkah untuk mendepak Josh jauh-jauh, meski jauh di hati aku ingin sekali mengejar Josh. “Kamu puas honey atau kamu jangan-jangan menyesal karena tidak sempat bicara dengannya tadi ?” goda Romi membuatku sedikit berpikir. “Sudahlah Romi, bukan perkara penting buatmu, nasi pecelnya aku yang bayar…” jawabku sembari kembali ke tempat penjual nasi pecel berada.

—————————————————-***—————————————————

“Mayang….apa kamu sudah memikirkan kira-kira bagaimana konsep Ladies yang baru? Acara presentasi di hadapan dewan komisaris sudah semakin dekat. Kalau sampai kita gagal menemukan ide yang segar maka sepertinya dewan komisaris tidak akan mengijinkan Ladies beredar lagi pada bulan berikutnya dan kamu tahu artinya buat kita? Kita akan didepak dari kantor ini….ingat itu, dan sekali lagi usahakan agar ide itu benar-benar belum pernah dipakai oleh majalah yang serupa dengan majalah kita terlebih itu majalah Cantik yang terus menerus mencuri ide kita dan menjadikan Ladies tidak laku di pasaran!!” omel Richard pagi itu sembari mondar – mandir di depan mejaku. Aku mendesah panjang, aku benar – benar belum menemukan ide sampai hari kesepuluh ini, aku benar – benar putus asa. “Ha? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu hanya menatapku dengan wajah seperti itu? Jangan bilang kalau kamu belum memikirkannya sama sekali….kamu sendiri yang menyakinkan aku waktu itu?” sambungnya sembari membungkuk ke arahku dan melebarkan matanya seolah ingin menerkamku. Aku mendengus kesal “Bagaimana Bapak bilang saya tidak memikirkannya?? Hampir seluruh waktu saya tersita untuk memikirkan Ladies….beri saya kesempatan untuk menemukannya…” Richard tersenyum getir “Terserah kamu…nasib Ladies sekarang ada di tangan kamu!” jawab Richard seenaknya melemparkan permasalahan Ladies padaku padahal dia sendiri pun tidak membuahkan satupun ide ataupun masukan untukku, dia hanya bisa mengomel dan mengomel. Lusi mengitip pembicaraan kami, senyumnya menunjukkan padaku bahwa dia senang jika Richard mulai memarahiku. “Hai, ngapain kamu senyum seperti itu?? Setidaknya pikirkan nasib Ladies juga….bukankah jika Richard didepak dari sini, kamu pun bernasib serupa karena kamu sekretarisnya!!” celetukku gusar padanya. “Kenapa marah-marah?? Itu kan tugasmu…aku tidak akan mengerjakan yang bukan bagianku…” jawabnya sembari memalingkan mukanya.

—————————————————–***————————————————–

“Kenapa muka kamu masam sekali, sayang??” tanya Anggun yang terus memperhatikanku yang sedari tadi diam di depan laptop tanpa mengerjakan apapun. “Ada cerpen baru yang bisa aku baca?” tanyanya sekali lagi sembari menghampiriku. Aku menoleh padanya dan tersenyum. “Sama sekali tidak ada. Cerpen yang kemarin saja tidak selesai…aku sedang sibuk memikirkan nasib Ladies, kalau tidak bulan depan aku akan menjadi pengangguran.” jawabku dengan  nada lemah. Anggun menyilangkan lengannya memelukku dari belakang. “Apa yang bisa aku bantu?” aku tahu setiap kali aku mengalami masalah, Anggun menjadi orang pertama yang akan menawarkan bantuan namun pelukannya saja membuatku merasa tenang. “Entahlah…aku sendiri bingung!!” jawabku mendesah panjang. “Aku punya seorang klien, namanya Ibu Susan. Dia seorang pengusaha batik dari Pekalongan yang sekarang menetap di Jakarta, dia orangnya sangat supel dan ramah….dia sangat loyal kepadaku. Kesukaan beliau adalah fashion, berlian, dia selalu tampil cantik dan anggun, dia juga gemar membaca majalah fashion seperti halnya Ladies.” ujar Anggun perlahan, aku menatapnya dengan pandangan penuh tanya, ingin tahu apa sebenarnya yang ingin Anggun ceritakan tentang kliennya itu. “Tapi sebenarnya yang aku ingin ceritakan ke kamu bukan itu melainkan kisah hidupnya yang menginspirasi aku. Dia seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di Pekalongan, dia sedari kecil sudah melewati hidup yang sulit dan keras….sampai akhirnya dia menjadi pengusaha batik di Pekalongan bersama suaminya. Sayangnya kebahagiaan itu tiba-tiba lenyap darinya, suami yang dicintainya meninggal dunia dan dia harus sendirian menghidupi kelima anaknya. Usahanya mulai mengalami penurunan dan dia harus memutar otak untuk bisa bertahan demi anak – anaknya yang masih kecil. Dia banting setir menjadi pemilik toko kelontong, usaha yang sama sekali baru buatnya namun dia menjalaninya dengan sepenuh hati. Hingga anaknya beranjak dewasa dan lulus dari perguruan tinggi dan menemukan pekerjaan yang mapan. Dia boleh sedikit tenang dan santai, kemudian dia mulai menyadari jika kecintaannya pada dunia fashion belum juga surut oleh karena itu dia memulai usaha batiknya mulai dari nol lagi bersama anak – anak perempuannya. Dan ternyata dia berhasil dan sukses sampai sekarang. Dia bilang padaku “Wanita sering diidentikan sebagai mahkluk yang menyukai keindahan, termasuk di dalamnya itu mungkin yang bisa dibilang memiliki harga yang tinggi. Misalkan berlian, perhiasan lainnya, baju, sepatu, tas, parfum. Tapi bayangkan bagaimana wanita itu sendiri, bukankah memang dia layak mendapatkan semua setelah usaha keras yang dilaluinya……membanting tulang selayaknya lelaki?? Bahkan lebih dari itu semua….mereka layak untuk dicintai”

“Kurasa kamu perlu menuangkan ide bahwa majalah fashion bukan sekedar dipakai untuk mempertontonkan tentang kehidupan metropolitan dimana mayoritas wanita bekerja, mereka menggemari fashion yang seakan bernilai tinggi sehingga masyarakat beranggapan miring terhadap mereka sebagai mahkluk matrealistis, lantas kita tanpa mengulas bagaimana mereka layak mendapatkan semuanya…perjuangan wanita yang membanting tulang selayaknya lelaki dan kini mereka menikmati hasilnya sendiri?” Anggun beranjak bangun dari tempat dia duduk, ada semacam terang di kepalaku, sepertinya aku menemukan ide yang kucari. Ladies yang baru, yang tidak sekedar mempertontonkan bagaimana fashion terbaru tetapi lebih mengupas bagaimana wanita itu sendiri….”Richard, kamu pasti akan aku buat tercengang…” jemariku mulai lentik memainkan keyboard dan merangkai kalimat – kalimat konsep Ladies terbaru.

—————————————————***—————————————————-

            Richard mengerutkan dahinya saat menerima konsep Ladies ideku, dia menggelengkan kepala. “Ladies adalah majalah fashion…bukan majalah yang mengupas ibu – ibu atau wanita yang ada dalam kepalamu itu! Just fashion…bukan yang lain, apa kamu mau sekalian buat Ladies mirip dengan bulletin mingguan yang dibaca ibu – ibu rumah tangga sekalian dengan resep masakannya? Ladies adalah untuk wanita karier, penyuka fashion, pengamat mode dan sebagainya….yang berkelas, Mayang!!!” serunya menolak mentah – mentah ideku, aku yakin dia tidak sepenuhnya mengerti maksudku. “Apa kamu mau menurunkan pamor dan reputasi Ladies? Aku ingin bukan sekedar membuat Ladies bertahan namun juga meningkat…” bantahnya sekali lagi. “Saya juga punya visi yang sama Pak…” potongku tidak sabar. “Kita akan jadi bahan tertawaan orang…” keluhnya sembari mendesah panjang. “Baiklah, begini saja…biarkan saya menyelesaikan ide saya kemudian saya akan serahkan dalam waktu seminggu ini, seandainya Bapak tidak menyukainya maka boleh Bapak rubah ide saya…” ujarku berusaha menyakinkannya. Richard bergumam tidak jelas, dari raut mukanya, aku tahu dia sedang berseberangan denganku. “Tidak ada banyak waktu…pergilah dan lakukan sesukamu!!” jawabnya sembari memberiku isyarat untuk segera menjauhi mejanya.

—————————————————-***—————————————————

//